Profil Darmanto Jatman: Filsuf, Akademisi, dan Penggerak Sastra Nusantara

Darmanto Jatman lahir pada 16 Agustus 1942 di Jakarta. Ia menghabiskan masa kecil hingga dewasa muda di Yogyakarta, sebuah kota yang kelak ...

Darmanto Jatman—yang lahir dengan nama Soedarmanto Jatman pada 16 Agustus 1942 di Jakarta—adalah salah satu tokoh penting dalam dunia psikologi, kebudayaan, dan sastra Indonesia. Dikenal sebagai Profesor Emeritus, humanis, filsuf, sekaligus penyair, ia menorehkan rekam jejak panjang yang kuat dalam dunia akademik maupun kesusastraan. Darmanto wafat pada 13 Januari 2018 di Semarang pada usia 75 tahun dan dimakamkan di kota yang menjadi pusat aktivitas intelektualnya selama puluhan tahun tersebut.

Darmanto Jatman

Identitas dan Latar Keluarga

Darmanto lahir dari keluarga Jawa bertradisi priyayi dengan kultur Kristen Jawa yang kuat. Ia menghabiskan masa kecil hingga dewasa muda di Yogyakarta, sebuah kota yang kelak membentuk karakter intelektual, spiritualitas, sekaligus kepekaan seninya. Lingkungan keluarga yang menghargai pendidikan dan budaya membuatnya sejak dini akrab dengan dunia literasi, filsafat, dan diskusi pemikiran.

Ia menikah dengan Sri Muryati, dan memiliki lima anak: Abigael Wohing Ati, Omi Intan Naomi, Bunga Jeruk Pekerti, Aryaning Arya Kresna, dan Gautama Jatining Sesami.

Salah satu anaknya, Omi Intan Naomi, mengikuti jejak sang ayah sebagai akademisi yang fokus pada kajian budaya dan gender, menandai pengaruh kuat Darmanto dalam keluarganya.

Pendidikan: Dari Yogyakarta hingga Hawaii dan London

Jejak pendidikan Darmanto dimulai dari sekolah dasar di Yogyakarta, tempat ia untuk pertama kalinya mengenal dunia puisi. Ia mengaku mulai menulis ketika duduk di kelas enam, sebuah pengalaman yang kemudian membawanya ke dunia literasi sepanjang hidup.

Karier pendidikannya meliputi:

  • SR–SMA di Yogyakarta, termasuk SMA III B Padmanaba.
  • Sarjana Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), lulus tahun 1968.
  • Studi Luar Negeri: University of Hawaii, Amerika Serikat (1972) dan University of London, Inggris (1977).
  • Magister Psikologi (S-2), Universitas Gadjah Mada (1985).

Latar pendidikan multidisipliner ini memperkaya cara pandangnya dalam memadukan psikologi, budaya, filsafat, dan sastra.

Karier Akademik dan Aktivitas Publik

Darmanto Jatman memulai kariernya sebagai pendidik pada akhir 1960-an:

  • Akademi Seni Rupa Yogyakarta (1969–1970)
  • Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (1970)

Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya ke Semarang:

  • Dosen FISIP Universitas Diponegoro (UNDIP) sejak 1979
  • Pendiri Fakultas Psikologi UNDIP
  • Guru Besar Luar Biasa Fakultas Psikologi UNDIP
  • Pendiri Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (1983)

Selain mengajar, ia aktif memimpin:

  • Pusat Penelitian Sosial Budaya UNDIP (1990–1996)
  • Komunitas dan LSM, termasuk LIMPAD, Forum Salatiga, dan Persepsi
  • Teater dan klub sastra seperti Teater Kristen Yogya dan Studi Klub Sastra Kristen Yogya

Ia juga dikenal sebagai redaktur di berbagai media budaya, antara lain:

  • Dinamika Baru
  • Kampus
  • Suara Merdeka
  • Tribun
  • Koran kampus Undip Manunggal
  • Majalah FISIP Forum

Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media nasional: Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, dan Kompas.

Sebagai penyair, ia kerap diundang ke forum internasional, termasuk:

  • Festival Seni Adelaide, Australia (1980)
  • Festival Penyair Internasional Rotterdam, Belanda (1983)

Eksperimennya dengan bahasa Jawa, Inggris, sedikit Belanda dan Prancis membuatnya dikenal sebagai penyair multilinguistis.

Karya Darmanto Jatman

Buku Puisi

Beberapa karya puisinya antara lain:

  1. Sajak-Sajak Putih (bersama MD + Dharmadji Sosropuro, 1965)
  2. Ungu (bersama A. Makmur Makka, 1966)
  3. Bangsat (kumpulan puisi tunggal, 1975)
  4. Arjuna in Meditation (bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M., 1976)
  5. Laut Biru Langit Biru: antologi puisi (1977)
  6. Ki Blakasuta Bla Bla (kumpulan puisi tunggal, 1980)
  7. Karto Iyo Bilang Mboten (kumpulan puisi tunggal, 1981)
  8. Sang Darmanto (kumpulan puisi tunggal, 1982)
  9. Tugu: antologi puisi (1986)
  10. Golf untuk Rakyat (kumpulan puisi tunggal, 1995)
  11. Isteri (kumpulan puisi tunggal, 1997)
  12. Horison Sastra Indonesia I Kitab Puisi: antologi puisi (2002)
  13. Darmanto Bilang: Sori Gusti (kumpulan puisi tunggal, 2002)

Buku Esai

Ia juga menulis karya-karya pemikiran yang banyak digunakan dalam kajian budaya dan psikologi masyarakat:

  1. Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985)
  2. Sekitar Masalah Kebudayaan (1986)
  3. Komunikasi Manusia (1994)
  4. Salah Tingkah Orang Indonesia (1995)
  5. Perilaku Kelas Menengah Indonesia (1996)
  6. Psikologi Jawa (1997)
  7. Politik Jawa (1999)
  8. Indonesia Tanpa Pagar (2002)
  9. Terima Kasih Indonesia (2002)

Karya-karyanya memperlihatkan perhatian besar pada manusia Indonesia, terutama percampuran budaya Jawa, psikologi sosial, dan spiritualitas.

Penghargaan dan Prestasi

Dedikasi Darmanto Jatman di bidang kebudayaan dan sastra membawanya pada sejumlah penghargaan prestisius, antara lain:

  1. The SEA Write Award (2002)
  2. Satyalancana Karya Satya (2002)
  3. Piagam Kepala Pusat Bahasa Depdiknas untuk Penulisan Puisi (2002)
  4. Satyalancana Kebudayaan (2010) dari Pemerintah RI

Penghargaan-penghargaan tersebut menegaskan kontribusinya sebagai sosok penting dalam dunia sastra dan pemikiran Indonesia.

Warisan Intelektual

Darmanto Jatman dikenang sebagai sosok yang:

  • menggabungkan psikologi, filsafat, dan sastra dalam sebuah kesatuan pandangan yang humanis,
  • memperkenalkan cara membaca manusia Indonesia melalui perspektif budaya Jawa,
  • memperkaya dunia puisi Indonesia dengan teknik bahasa yang unik dan jenaka,
  • serta menjadi teladan akademisi yang aktif membangun institusi dan komunitas intelektual.

Kontribusinya terus hidup melalui karya-karya tulis, para murid, keluarga intelektualnya, dan berbagai institusi yang ia bangun. Darmanto Jatman bukan sekadar penyair atau akademisi; ia adalah penggerak kebudayaan yang menjembatani tradisi Jawa, pemikiran modern, dan spiritualitas Nusantara.

© Artikel Populer. All rights reserved.