Profil Faisal Baraas: Sastrawan dan Dokter dengan Jejak Panjang Pengabdian dan Kreativitas

Faisal Baraas lahir pada tanggal 16 Agustus 1947 di Desa Loloan Barat, Negara, Jembrana, Bali. Kegemarannya membaca sejak kecil menjadi fondasi ...

Faisal Baraas dikenal sebagai sosok yang berhasil merawat dua dunia sekaligus: dunia medis yang menuntut ketelitian dan empati, serta dunia sastra yang mengolah kepekaan, perenungan, dan imajinasi. Perpaduan ini membentuk corak khas dalam karya-karyanya, yang kerap menampilkan manusia dengan segala kompleksitas batin, sosial, dan spiritual.

  • Nama: Faisal Baraas
  • Tempat, tanggal lahir: Desa Loloan Barat, Negara, Jembrana, Bali — 16 Agustus 1947
  • Profesi: Dokter, penyair, cerpenis, dan novelis
  • Bidang utama: Sastra (puisi, cerpen, novel) dan kesehatan masyarakat

Faisal Baraas

Latar Keluarga dan Lingkungan Awal

Faisal Baraas lahir dan tumbuh di Loloan Barat, sebuah kawasan multikultural di Kabupaten Jembrana, Bali. Lingkungan sosial yang beragam, serta tradisi lisan dan budaya yang hidup di sekitarnya, turut membentuk kepekaan sosial dan kulturalnya sejak dini.

Kegemarannya membaca sejak kecil menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya minat menulis. Dukungan lingkungan keluarga terhadap pendidikan dan pengetahuan turut memberi ruang bagi Faisal Baraas untuk mengembangkan minat intelektual dan kreativitasnya, yang kelak berkembang secara serius sejak masa remaja.

Pendidikan

Perjalanan pendidikan Faisal Baraas menunjukkan konsistensi antara minat akademik dan pengabdian sosial.

  1. SMA Negeri Singaraja, jurusan Ilmu Pasti Alam (IPA), lulus tahun 1966.
  2. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar.
  3. Meraih gelar dokter pada tahun 1975.

Pilihan menempuh pendidikan kedokteran tidak menghentikan aktivitas kreatifnya di bidang sastra. Justru, masa studi menjadi periode subur bagi proses menulis dan publikasi karya-karya awalnya.

Awal Karier Menulis

Aktivitas menulis Faisal Baraas telah dirintis sejak ia menempuh Sekolah Menengah Tingkat Pertama. Karya pertamanya berupa puisi dimuat di rubrik “Benteng Muda” harian Suluh Marhaen edisi Bali.

Sejak itu, karya-karyanya rutin hadir di berbagai media nasional dan daerah, antara lain: Suluh Marhaen, Bali Post, Angkatan Bersenjata edisi Bali–Nusa Tenggara, Kompas, Suara Karya, Sinar Harapan, Femina, Pandji Masyarakat, Sastra, Horison, Gelora, dan Mahasiswa Indonesia.

Konsistensi publikasi ini menandai posisi Faisal Baraas sebagai bagian dari dinamika sastra Indonesia sejak akhir 1960-an.

Karier Kedokteran dan Aktivitas Sosial

Setelah memperoleh gelar dokter, Faisal Baraas mengabdikan diri di berbagai lini pelayanan kesehatan:

  1. Dokter di Puskesmas Melaya, Negara, Bali (1975–1978)
  2. Kepala Rumah Sakit Umum Bangli (1979–1982)
  3. Terlibat dalam pembinaan kesehatan masyarakat di sejumlah desa terpencil.

Pengalaman lapangan sebagai dokter memberi bahan reflektif yang kuat bagi karya-karya nonfiksinya, terutama tulisan yang mengangkat persoalan keluarga, kesehatan, dan problem kemanusiaan secara lebih luas.

Prestasi dan Karya Sastra

Sebagai sastrawan, Faisal Baraas mencatatkan sejumlah capaian penting: Pemenang Pertama Sayembara Penulisan Puisi Majalah Sastra (1968) melalui puisi religius panjang berjudul “Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus”

Karya-karyanya dikenal mengolah tema religiusitas, pencarian makna hidup, kegelisahan intelektual, serta realitas sosial dengan bahasa yang reflektif dan tenang.

Karya Buku

Novel:

  1. Mini (Penerbit Cypress, 1978)

Cerpen:

  1. Leak (PN Balai Pustak, 1983)

Kedoktoran:

  1. Beranda Kita: Perbincangan Seks dalam Keluarga (Grafiti Pers, 1985)
  2. Mencegah Serangan Jantung dengan Menekan Kolesterol (Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 1993)
  3. Catatan Harian Seorang Dokter: Kisah Manusia dengan Segenap Kegelisahan dan Kompleksitas Problem Kehidupannya (Mizan, 2000)

Melalui buku-buku ini, Faisal Baraas menempatkan isu kesehatan dalam bingkai kemanusiaan, menjadikannya mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat luas.

Visi dan Kontribusi

Faisal Baraas dapat dipandang sebagai figur yang menjembatani ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan sastra. Dalam dunia medis, ia berkontribusi melalui pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat. Dalam dunia sastra, ia memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan karya yang reflektif, humanis, dan berpijak pada pengalaman nyata.

Visinya tercermin pada upaya memahami manusia secara utuh—baik sebagai tubuh biologis maupun sebagai makhluk sosial dan spiritual.

Faisal Baraas merupakan contoh intelektual lintas disiplin yang konsisten berkarya dan mengabdi. Dengan latar belakang sebagai dokter sekaligus sastrawan, ia menghadirkan perspektif yang kaya tentang manusia dan kehidupannya. Jejak karyanya menegaskan bahwa sastra dan ilmu pengetahuan tidak harus berjalan terpisah, melainkan dapat saling menguatkan demi pemahaman yang lebih dalam tentang kemanusiaan.

© Artikel Populer. All rights reserved.