Philipus Joko Pinurbo dikenal luas sebagai salah satu penyair paling berpengaruh dalam sastra Indonesia kontemporer. Dengan gaya khas yang memadukan humor, ironi, dan refleksi mendalam atas kehidupan sehari-hari, Jokpin berhasil menghadirkan puisi yang terasa dekat sekaligus menggugah pembacanya.
- Nama lengkap: Philipus Joko Pinurbo
- Nama populer: Joko Pinurbo (Jokpin)
- Tempat, tanggal lahir: Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962
- Wafat: Yogyakarta, 27 April 2024
Latar Keluarga
Joko Pinurbo berasal dari keluarga sederhana. Latar keluarga yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai keseharian turut membentuk kepekaannya dalam menangkap detail-detail kecil kehidupan. Meski informasi tentang orang tua dan silsilah keluarganya jarang disorot secara terbuka, pengaruh lingkungan keluarga tampak jelas dalam puisinya yang kerap berangkat dari pengalaman manusia biasa, ruang domestik, dan relasi personal yang intim.
Kesederhanaan asal-usul ini menjadi fondasi penting dalam estetikanya: puisi tidak harus megah, tetapi jujur dan hidup.
Pendidikan
Joko Pinurbo menempuh pendidikan tinggi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma, yang kini dikenal sebagai Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Minatnya terhadap puisi sudah tumbuh sejak Sekolah Menengah Atas, jauh sebelum ia dikenal luas sebagai penyair nasional.
Lingkungan akademik dan intelektual Yogyakarta turut memberi ruang bagi Jokpin untuk mengasah kepekaan bahasa dan memperluas horizon estetiknya. Meski tidak tercatat menempuh studi formal di luar negeri, kiprahnya justru melampaui batas geografis melalui penerjemahan karya dan undangan festival internasional.
Karier dan Aktivitas Publik
Joko Pinurbo bermukim dan berkarya di Yogyakarta, kota yang menjadi rumah kreatifnya selama puluhan tahun. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sastra, baik sebagai pembaca puisi, narasumber diskusi, maupun peserta festival sastra nasional dan internasional.
Ia sering diundang dalam pertemuan sastra lintas negara, antara lain:
- Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee (Jakarta, 2001)
- Winternachten Literary Festival (Belanda, 2002)
- Forum Puisi Indonesia (Hamburg, Jerman, 2002)
- Festival Puisi Internasional-Indonesia (Solo, 2002)
Melalui kehadiran tersebut, Jokpin turut memperkenalkan wajah puisi Indonesia yang unik, segar, dan berkarakter kepada publik internasional.
Prestasi dan Penghargaan
Atas konsistensi dan kekuatan estetik karyanya, Joko Pinurbo menerima berbagai penghargaan bergengsi, antara lain:
- Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001)
- Sih Award (2001)
- Hadiah Sastra Lontar (2001)
- Tokoh Sastra Pilihan Majalah Tempo (2001, 2012)
- Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014)
- Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015)
- South East Asian (SEA) Write Award (2014)
Penghargaan-penghargaan tersebut menegaskan posisi Jokpin sebagai figur penting dalam sejarah sastra Indonesia modern.
Karya dan Kontribusi Sastra
Joko Pinurbo dikenal produktif dan konsisten menerbitkan karya. Beberapa buku puisinya yang menonjol antara lain:
- Celana (1999)
- Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
- Pacarkecilku (2002)
- Telepon Genggam (2003)
- Kekasihku (2004)
- Buku Latihan Tidur (2017)
- Srimenanti (2019)
- Salah Piknik (2021)
Selain puisi, ia juga menulis prosa, seperti kumpulan cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita (2023).
Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Jerman, Rusia, dan Mandarin, menandakan daya jangkau internasional puisinya.
Sejumlah puisinya juga dimusikalisasi oleh musisi lintas genre, seperti Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan, memperluas apresiasi puisi ke ranah musik populer dan klasik.
Ciri Khas dan Visi Kepenyairan
Puisi-puisi Joko Pinurbo dikenal sebagai perpaduan antara narasi, humor, dan ironi. Ia gemar mengolah peristiwa dan objek sehari-hari—seperti celana, sarung, telepon genggam—menjadi medium refleksi eksistensial yang tajam namun tetap ringan.
Visinya sederhana namun kuat: menjadikan bahasa Indonesia sebagai ruang bermain yang hidup, cair, dan bermakna. Banyak puisinya dianggap sulit diterjemahkan secara utuh karena kekuatan permainan kata dan konteks budaya yang khas Indonesia.
Wafatnya Joko Pinurbo pada 27 April 2024 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, menandai kehilangan besar bagi dunia sastra Indonesia. Namun, karya-karyanya tetap hidup dan terus dibaca lintas generasi.
Melalui bahasa yang sederhana namun bernas, Joko Pinurbo meninggalkan warisan penting: bahwa puisi dapat tumbuh dari hal-hal kecil, dan dari sanalah makna besar kehidupan sering kali bermula.