Profil Wiji Thukul: Penyair, Seniman Rakyat, dan Aktivis Demokrasi Indonesia

Aktivisme dan puisi-puisi kritis Thukul membuatnya berada dalam pengawasan aparat pada masa Orde Baru. Setelah peristiwa 27 Juli 1996 dan menjelang ..

Wiji Thukul dikenal sebagai penyair dan aktivis yang karya-karyanya merekam suara rakyat kecil serta kritik sosial terhadap kekuasaan, khususnya pada masa pemerintahan Orde Baru. Puisi-puisinya hingga kini masih sering dibacakan dalam berbagai forum kebudayaan dan aksi sosial, menandakan pengaruhnya yang berkelanjutan dalam sejarah sastra dan gerakan sosial Indonesia.

  • Nama lengkap: Widji Widodo
  • Nama dikenal: Wiji Thukul
  • Tempat, tanggal lahir: Surakarta (Solo), 26 Agustus 1963
  • Status: Dinyatakan hilang sejak 10 Februari 1998

Latar Keluarga dan Kehidupan Awal

Thukul lahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dalam keluarga Katolik dengan kondisi ekonomi sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak, sementara ibunya turut menopang perekonomian keluarga dengan berjualan ayam bumbu. Latar kehidupan ini membentuk kepekaan sosial Thukul sejak usia dini, terutama terhadap ketimpangan ekonomi dan kehidupan kaum marjinal.

Profil Wiji Thukul

Pengalaman hidup di lingkungan rakyat kecil menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karyanya. Puisi bagi Thukul bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan sarana menyampaikan realitas sosial yang ia alami secara langsung.

Pendidikan dan Pembentukan Minat Seni

Minat Thukul terhadap sastra muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, ketika mulai menulis puisi. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri 8 Surakarta dan melanjutkan pendidikan hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari. Namun, keterbatasan ekonomi memaksanya berhenti sekolah.

Meski tidak menamatkan pendidikan formalnya, Thukul terus belajar secara mandiri melalui praktik seni. Ia tertarik pada dunia teater sejak SMP dan aktif dalam Teater Jagat, sebuah kelompok teater rakyat. Bersama kelompok ini, Thukul kerap “ngamen puisi” dari kampung ke kampung dan dari kota ke kota, mendekatkan sastra pada masyarakat akar rumput.

Karier Seni dan Aktivitas Sosial

Selain menulis puisi, Thukul menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup, seperti berjualan koran, menjadi calo karcis bioskop, dan bekerja sebagai tukang pelitur di perusahaan mebel. Pengalaman bekerja di sektor informal ini semakin memperkuat perspektif sosial dalam karyanya.

Ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan seni rupa bersama anak-anak kampung Jagalan, tempat ia tinggal bersama keluarganya. Bagi Thukul, seni adalah alat pendidikan sosial dan kesadaran kritis, bukan sekadar hiburan.

Pada awal 1990-an, Thukul semakin terlibat dalam aktivitas advokasi rakyat. Ia turut serta dalam demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo (1992) dan aktif mendampingi perjuangan buruh serta petani. Dalam aksi petani Bringin, Ngawi (1994), Thukul memimpin massa dan berorasi, yang berujung pada penangkapan dan kekerasan fisik oleh aparat.

Ia juga menjadi Ketua Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER), sebuah wadah kesenian yang menggabungkan praktik seni dengan perjuangan sosial. Aktivitas ini menempatkan Thukul sebagai figur penting dalam gerakan seni rakyat pada masa itu.

Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan Siti Dyah Sujirah (Sipon), seorang buruh. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak:

  1. Fitri Nganthi Wani
  2. Fajar Merah

Keluarga menjadi bagian penting dalam kehidupan dan karya Thukul. Dalam situasi tekanan politik dan ekonomi, ia tetap menjalankan peran sebagai ayah dan seniman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sipon meninggal dunia pada tahun 2023, setelah bertahun-tahun memperjuangkan kejelasan nasib suaminya.

Karya dan Prestasi Sastra

Wiji Thukul dikenal melalui puisi-puisi yang lugas, langsung, dan berpihak pada suara rakyat. Beberapa puisinya menjadi ikon perlawanan non-kekerasan melalui kata-kata.

Buku Puisi:

  1. Puisi Pelo (Taman Budaya Surakarta, 1984)
  2. Darman dan Lain-Lain (Taman Budaya Surakarta, 1984)
  3. Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, 1994)
  4. Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000)
  5. Para Jendral Marah-Marah: kumpulan puisi Wiji Thukul dalam pelarian (Tempo, 2013)
  6. Nyanyian Akar Rumput (Gramedia Pustaka Utama, 2014)
  7. Widji Thukul: Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa (Anak Hebat Indonesia, 2017)

Tiga sajak yang paling populer dan kerap dibacakan dalam aksi massa adalah Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok. Karya-karya ini memperlihatkan kekuatan puisi sebagai alat artikulasi aspirasi publik.

Penghargaan dan Pengakuan

  1. Wertheim Encourage Award (1991) dari Wertheim Stichting, Belanda, bersama W.S. Rendra
  2. Yap Thiam Hien Award (2002), diberikan secara anumerta sebagai pengakuan atas perjuangan hak asasi manusia
  3. Pada 2018, film dokumenter Nyanyian Akar Rumput yang mengisahkan kehidupan putranya, Fajar Merah, turut memperkenalkan kembali warisan pemikiran dan karya Wiji Thukul kepada generasi baru.

Kontroversi dan Peristiwa Penghilangan

Aktivisme dan puisi-puisi kritis Thukul membuatnya berada dalam pengawasan aparat pada masa Orde Baru. Setelah peristiwa 27 Juli 1996 dan menjelang Reformasi 1998, namanya masuk dalam daftar aktivis yang dicari aparat. Sejak 1996, ia hidup berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan.

Kontak terakhir dengan keluarganya terjadi pada Februari 1998. Sejak itu, Wiji Thukul dinyatakan hilang. Terdapat dugaan keterlibatan aparat militer dalam penghilangan paksa sejumlah aktivis pada periode tersebut. Hingga kini, keberadaan Thukul belum diketahui, dan kasusnya masih menjadi bagian dari tuntutan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia.

Warisan dan Kontribusi

Wiji Thukul meninggalkan warisan penting dalam dunia sastra, seni, dan kesadaran sosial Indonesia. Puisinya menjadi simbol keberanian menyuarakan kebenaran dan memperlihatkan bahwa kata-kata dapat menjadi bentuk perlawanan yang damai namun kuat. Hingga kini, karya-karyanya terus dibaca, dikaji, dan dihidupkan kembali dalam berbagai ruang budaya dan pendidikan.

© Artikel Populer. All rights reserved.