Profil Hendro Siswanggono: Dokter, Penyair, dan Ketekunan Berkarya Sepanjang Zaman

Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo. Ia mulai menulis puisi sejak akhir 1960-an. Pada usia sekitar 16 tahun, puisi ...

Hendro Siswanggono dikenal sebagai sosok yang konsisten menapaki dua dunia sekaligus: dunia profesi medis dan dunia sastra, khususnya puisi. Ia termasuk penyair Indonesia yang memiliki rekam jejak panjang, sejak masa remaja hingga usia matang, dengan produktivitas yang terbilang langka.

  • Nama: Hendro Siswanggono
  • Tempat, tanggal lahir: Sidoarjo, 19 Oktober 1951

Hendro Siswanggono

Latar Keluarga dan Lingkungan

Hendro lahir di Sidoarjo dan sempat tinggal di Malang serta Surabaya pada masa awal kehidupannya. Pengalaman berpindah kota di Jawa Timur tersebut membentuk kedekatan Hendro dengan beragam lanskap sosial dan kultural. Pada 19 Oktober 1952, ia kembali ke kota kelahirannya, Sidoarjo, yang kemudian menjadi salah satu ruang penting bagi perjalanan hidup dan kreativitasnya.

Pendidikan dan Profesi

Di luar dunia sastra, Hendro Siswanggono dikenal sebagai seorang dokter. Profesi ini dijalani bersamaan dengan aktivitas kreatifnya sebagai penyair. Perjumpaan antara dunia medis—yang dekat dengan tubuh, rasa sakit, dan kehidupan—dengan dunia puisi memperkaya sudut pandang estetik sekaligus reflektif dalam karya-karyanya.

Kehidupan profesional yang padat tidak menghalanginya untuk terus menulis. Justru, dalam kesibukan tersebut, Hendro menunjukkan disiplin tinggi dengan menerbitkan dua hingga tiga buku puisi setiap tahun, sebuah capaian yang menandai ketekunan dan dedikasi jangka panjang.

Kiprah Sastra Sejak Usia Muda

Hendro mulai menulis puisi sejak akhir 1960-an. Pada usia sekitar 16 tahun, puisi-puisinya telah dimuat di majalah sastra bergengsi seperti Horison dan Basis. Prestasi awal ini tergolong istimewa, mengingat kedua media tersebut merupakan rujukan utama sastra Indonesia pada masanya.

Dukungan datang dari tokoh penting sastra Indonesia. Sapardi Djoko Damono, yang saat itu aktif sebagai redaktur puisi di majalah Basis, menulis surat dukungan untuk Hendro—sebuah pengakuan awal yang mempertegas potensi dan keseriusannya sebagai penyair muda.

Sejak periode tersebut, publikasi karya Hendro tidak pernah terputus hingga hari ini, menjadikannya salah satu penyair dengan kontinuitas paling panjang dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer.

Karya dan Produktivitas

Hendro Siswanggono dikenal sangat produktif dalam menerbitkan buku antologi puisi. Karya-karyanya menunjukkan eksplorasi bahasa, simbol, mitos, dan spiritualitas, sekaligus refleksi atas realitas sosial dan pengalaman personal.

Beberapa buku puisi yang telah terbit antara lain:

  1. Potret Seorang Anak Laki-laki yang Menitikkan Air Mata (Delima Pustaka, Sidoarjo, 2020).
  2. Seekor Ular yang Bertukar Rupa (AUP Press, 2020)
  3. Burung-burung Liar Merayah Terbang ke Selatan (AUP Press, 2020)
  4. Selembar Peta yang Tak Terbaca (Tankali, 2020)
  5. Orang-orangan yang Menyala dari Matanya (2021)
  6. Topeng Gerabah (AUP Press, 2021)
  7. Sendiri Menemui-Mu (2022). Editor Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia, yang menulis prolog, epilog-nya ditulis oleh Abdul Hadi W M, dilengkapi oleh Atiek Koentjoro, jebolan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) yang memberi sentuhan artistik buku.
  8. Boneka Kain Perca Bermuka Marun (2022)
  9. Pelarian Burung-burung Sriti (JBS, Juli, 2022)
  10. Kupu-kupu Perak Bersayap Merah (Kosa Kata Kita, 2021)
  11. Kota kecil di Pedalaman (Kosa Kata Kita, 2021)
  12. Nyanyian Satu Bait bagi Kekasih (AUP Press, 2023)
  13. Seperti Hujan Dalam Pigora (JBS, 2023)

Dalam buku Pelarian Burung-burung Sriti, Hendro berkolaborasi dengan karya drawing dari Syska La Veggie, menunjukkan keterbukaan terhadap lintas disiplin seni rupa.

Apresiasi dan Testimoni Tokoh Sastra

Sejumlah tokoh sastra Indonesia memberi perhatian khusus terhadap karya Hendro. Afrizal Malna beberapa kali menulis prolog atau epilog dalam buku-bukunya. Dalam Nyanyian Satu Bait bagi Kekasih, Afrizal mencatat:

“Hendro membawa refleksi dari dunia mitos yang dikenalnya, ikon-ikon agama dan realitas menjadi transenden di satu sisi dan pada sisi lainnya sebagai kritik atas realitas yang dialaminya.”

Buku Sendiri Menemui-Mu (2022) juga mendapat sentuhan istimewa, dengan Sutardji Calzoum Bachri sebagai penulis prolog, Abdul Hadi W.M. sebagai penulis epilog, serta kontribusi artistik dari Atiek Koentjoro (Akademi Seni Rupa Surabaya/Aksera).

Kehadiran nama-nama tersebut menegaskan posisi Hendro sebagai penyair yang dihargai lintas generasi dan lintas pendekatan estetik.

Visi dan Kontribusi

Melalui puisi, Hendro Siswanggono menghadirkan visi yang memadukan mitos, spiritualitas, dan realitas sosial. Puisinya tidak hanya bergerak pada ranah personal, tetapi juga menjadi medium refleksi dan kritik atas pengalaman hidup manusia modern.

Kontribusinya tidak semata diukur dari jumlah buku, melainkan dari konsistensi berkarya selama lebih dari lima dekade, serta kemampuannya menjaga relevansi estetik di tengah perubahan zaman sastra Indonesia.

Hendro Siswanggono merupakan contoh penyair yang menunjukkan bahwa ketekunan, disiplin, dan kesetiaan pada proses kreatif dapat berjalan seiring dengan kehidupan profesional di luar sastra. Dengan perjalanan panjang sejak akhir 1960-an hingga kini, ia menempati posisi penting sebagai penyair yang terus menulis, membaca zaman, dan merawat puisi sebagai ruang refleksi kemanusiaan.

© Artikel Populer. All rights reserved.