Kunni Masrohanti lahir di Sabak Auh, Siak Sri Indrapura, pada 11 April 1974. Ia dikenal luas sebagai sastrawati Indonesia yang konsisten memadukan kerja kreatif sastra dengan aktivisme lingkungan dan pelestarian budaya Melayu, khususnya di wilayah Riau.
Latar Keluarga dan Lingkungan Sosial
Kunni Masrohanti tumbuh dalam lingkungan masyarakat Melayu yang kuat dengan tradisi lisan, nilai kearifan lokal, serta kedekatan dengan alam. Latar sosial dan budaya tempat ia dibesarkan memberi pengaruh besar terhadap orientasi karyanya, terutama dalam melihat hubungan manusia, tanah, air, dan ingatan kolektif masyarakat pesisir serta pedalaman Riau. Nilai-nilai keluarga dan lingkungan ini kemudian tercermin dalam pilihan tematik karya sastra maupun aktivitas kebudayaannya.
Proses Pembelajaran
Proses belajarnya dapat dilihat melalui keterlibatan panjang dalam dunia jurnalistik, sastra, dan forum-forum kebudayaan. Ia aktif mengikuti berbagai perhelatan sastra nasional dan internasional, seperti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II di Jakarta serta Pertemuan Penyair Nusantara XI di Kudus (2019) yang dihadiri sastrawan dari enam negara Melayu serumpun. Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk perspektifnya sebagai sastrawan yang terbuka terhadap dialog lintas budaya.
Karier dan Aktivitas Publik
Kunni Masrohanti dikenal sebagai figur multidisipliner:
- Sastrawati dan penyair, dengan karya puisi yang tersebar di berbagai media massa dan antologi.
- Jurnalis, yang turut memberi perhatian pada isu lingkungan dan kebudayaan.
- Aktivis lingkungan, khususnya melalui pendekatan literasi dan seni.
- Budayawan, yang aktif merawat tradisi dan ekspresi budaya lokal.
Ia merupakan pendiri gerakan Literasi Konservasi di Riau, sebuah inisiatif yang menghubungkan kegiatan literasi dengan kesadaran ekologis. Selain itu, Kunni mendirikan dan mengelola Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, yang menjadi ruang kreatif sekaligus pusat aktivitas seni, sastra, dan budaya. Dalam lingkup nasional, ia menjabat sebagai Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI), memperkuat peran dan visibilitas penyair perempuan dalam ekosistem sastra Indonesia.
Prestasi dan Penghargaan
Kontribusi Kunni Masrohanti diakui melalui berbagai penghargaan, antara lain:
- Juara 1 Lomba Baca Puisi Peksiminas (1999).
- Anugerah Sagang (2012) kategori Karya Non Buku.
- Anugerah Pemangku Seni Tradisional dari Gubernur Riau (2014).
- Anugerah Baiduri dari PRBF Fondation (2014) kategori Sastrawati.
- Anugerah Sagang (2016) kategori Komunitas Terbaik.
- Penghargaan Jurnalistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2018, 2019).
- Anugerah Sagang (2019) sebagai budayawan perempuan pertama di Riau.
- Sastrawan Kemendikbud (2020).
- Anugerah Kebudayaan sebagai Tokoh Budaya dari Dinas Kebudayaan Riau (2021).
Namanya juga tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi (2017), yang mendokumentasikan profil dan proses kreatif para penyair Indonesia.
Karya dan Bibliografi
Kunni Masrohanti telah menghasilkan puluhan karya sastra, baik buku tunggal maupun antologi bersama. Beberapa karya pentingnya meliputi:
Buku Puisi Tunggal (pilihan):
- Sunting (2011)
- Perempuan Bulan (2016)
- Calung Penyukat (2019)
- Kotau (2020)
- Dan Perempuan yang Kau Telan Airmatanya (2021)
Naskah Teater:
- Peri Bunian (2012)
- Jalang (2015)
- Semah Tanah (2023)
Selain itu, puisinya terhimpun dalam banyak antologi nasional dan internasional, termasuk Antologi Moonson (Korea Selatan, 2017) dan Wangian Kembang (Malaysia, 2018). Tema yang kerap muncul dalam karyanya mencakup perempuan, alam, tanah, ingatan kolektif, dan kritik sosial dengan pendekatan simbolik.
Visi dan Kontribusi
Visi utama Kunni Masrohanti adalah menjadikan sastra sebagai medium kesadaran—baik kesadaran ekologis, kultural, maupun kemanusiaan. Melalui literasi konservasi, ia berupaya mempertemukan seni, pendidikan, dan advokasi lingkungan secara berkelanjutan. Karyanya tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai arsip kultural dan alat refleksi sosial.
Kunni Masrohanti merupakan contoh sastrawati Indonesia yang menempatkan sastra tidak hanya sebagai ruang estetika, tetapi juga sebagai alat advokasi budaya dan lingkungan. Konsistensinya dalam berkarya, membangun komunitas, dan menghubungkan literasi dengan konservasi menjadikannya salah satu tokoh penting dalam lanskap sastra dan kebudayaan kontemporer Indonesia, khususnya di Riau.