Profil Puji Pistols: Penyair Jalanan dari Pati yang Setia pada Kata dan Kehidupan

Puji Pistols adalah contoh penyair yang menjalani hidup sepenuhnya di antara kerja, kesenian, dan kesetiaan pada suara batin. Dari warung nasi di ...

Pujianto, lebih dikenal dengan nama pena Puji Pistols, lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 15 Desember 1966. Ia dikenal sebagai penyair, penggiat sastra lokal, sekaligus sosok pekerja rakyat yang menjalani hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Puji Pistols wafat pada 17 Januari 2026 dan dimakamkan keesokan harinya, 18 Januari 2026 pukul 10.00 WIB, di Getaan, Pati Wetan.

Puji Pistols

Latar Keluarga dan Kehidupan Awal

Pujianto berasal dari lingkungan masyarakat biasa di Pati. Kehidupan sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kemandirian. Sehari-hari, ia dikenal berjualan nasi di sebuah warung kecil di Pati—sebuah aktivitas yang dijalaninya bersamaan dengan kegemarannya membaca buku dan bermusik.

Lingkungan dan pengalaman hidup yang dekat dengan masyarakat kecil turut membentuk suara puisinya: lugas, keras, ironis, namun tetap manusiawi.

Pendidikan

Puji Pistols menempuh pendidikan hingga jenjang SMA, meskipun tidak menyelesaikannya secara formal. Kendati demikian, keterbatasan pendidikan formal tidak menghalangi perkembangan intelektual dan artistiknya. Ia dikenal sebagai pembaca aktif dan pembelajar mandiri, terutama dalam bidang sastra dan musik, yang kemudian banyak memengaruhi gaya estetik serta tema-tema puisinya.

Minat Musik dan Awal Berkesenian

Sebelum dikenal luas sebagai penyair, Puji Pistols sempat aktif di dunia musik. Ia pernah menjadi gitaris band grunge tak ternama di kota Pati. Pengalaman bermusik ini meninggalkan jejak kuat dalam karya-karyanya, terutama dalam ritme bahasa, pilihan diksi yang keras, serta sikap perlawanan terhadap kemapanan yang kerap muncul dalam puisinya.

Karier Sastra dan Aktivitas Publik

Puji Pistols merupakan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Pati, sebuah peran yang menegaskan posisinya sebagai penggerak sastra lokal. Ia aktif dalam kegiatan kesenian, diskusi, dan jejaring sastra di tingkat daerah.

Puisi-puisinya dimuat di berbagai media cetak lokal dan zine, antara lain: Suara Merdeka, Kabar Pesisir, Tikar Merah, dan Lembar sastra Hysteria.

Kehadiran karyanya di media tersebut menunjukkan konsistensinya berkarya sekaligus pengakuan atas kualitas puisinya di lingkup sastra regional.

Buku Puisi

Sepanjang hidupnya, Puji Pistols menerbitkan dua buku puisi tunggal:

  1. Anjing Tetanggaku Anjing (Dewan Kesenian Pati, 2011)
  2. Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan (Basabasi, 2019)

Antologi Bersama

Selain buku tunggal, puisi-puisi Puji Pistols juga terhimpun dalam puluhan antologi bersama. Beberapa di antaranya yang menonjol adalah:

  1. Requiem Bagi Rocker (TBJT, 2012)
  2. Sajak buat Gus Dur (DKK, 2014)
  3. Sajak Untuk Klungkung (Nyoman Gunarsa, 2016)
  4. Mata Angin Mata Gelombang (Rumah Adab Indonesia Mulia, 2016)

Keterlibatannya dalam antologi-antologi tersebut menunjukkan keterhubungannya dengan jejaring sastra lintas daerah dan tema.

Visi dan Kontribusi

Puji Pistols dikenal sebagai penyair yang tidak memisahkan kehidupan sehari-hari dari kerja kreatif. Ia meyakini bahwa sastra tidak harus lahir dari menara gading, melainkan dari warung, jalanan, obrolan, dan pengalaman hidup nyata.

Kontribusi terbesarnya terletak pada ketekunan merawat sastra di daerah, memberi teladan bahwa kesetiaan pada kata tidak bergantung pada status sosial maupun popularitas.

Puji Pistols adalah contoh penyair yang menjalani hidup sepenuhnya di antara kerja, kesenian, dan kesetiaan pada suara batin. Dari warung nasi di Pati hingga halaman-halaman buku puisi, ia meninggalkan jejak yang sederhana namun bermakna. Kepergiannya pada Januari 2026 menutup perjalanan seorang penyair jalanan yang konsisten menjaga martabat kata—tanpa banyak sorotan, tetapi dengan ketulusan yang panjang usianya dalam ingatan sastra.

© Artikel Populer. All rights reserved.