Profil Theoresia Rumthe: Penyiar, Pengajar, dan Penyair

Theoresia Rumthe merupakan seorang penulis, penyair, dan pengajar public speaking asal Maluku yang dikenal melalui karya-karya puisinya yang puitis ..

Theoresia Rumthe merupakan seorang penulis, penyair, dan pengajar public speaking asal Maluku yang dikenal melalui karya-karya puisinya yang puitis dan reflektif. Ia lahir di Ambon pada 16 Oktober 1983 dan kini menetap di Bandung, Jawa Barat. Selain aktif di dunia literasi, Theoresia juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia komunikasi dan seni bertutur.

Theoresia Rumthe

Sebelum menekuni aktivitas kepenulisan dan pengajaran secara penuh, ia pernah berkarier sebagai penyiar radio selama kurang lebih sepuluh tahun. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam berbicara di depan publik, membangun komunikasi yang hangat, serta menghadirkan percakapan yang akrab dan bermakna.

Latar Keluarga dan Kehidupan Personal

Sebagai perempuan asal Maluku, Theoresia membawa nuansa budaya timur Indonesia dalam cara pandang maupun karya-karyanya. Kedekatannya dengan dunia literasi tumbuh dari kebiasaan mengamati kehidupan sehari-hari dan merekam berbagai pengalaman dalam catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana pun pergi.

Dalam kesehariannya, ia dikenal senang berdiskusi di ruang-ruang sederhana seperti warung kopi, mengadakan pembacaan puisi, serta membangun percakapan yang mempertemukan banyak gagasan dan pengalaman manusia. Kebiasaan mencatat serta ketertarikannya pada detail kehidupan menjadi salah satu ciri kuat dalam karya-karyanya.

Pendidikan dan Pengembangan Diri

Meski informasi mengenai pendidikan formalnya tidak banyak dipublikasikan, perjalanan karier dan karya Theoresia menunjukkan ketekunannya dalam mengembangkan kemampuan komunikasi, sastra, dan seni berbicara. Pengalamannya sebagai penyiar radio serta pengajar public speaking memperlihatkan konsistensinya dalam membangun kapasitas diri di bidang komunikasi publik dan literasi.

Karier dan Aktivitas Publik

Selain dikenal sebagai penulis, Theoresia aktif mengajar seni berbicara di depan umum atau public speaking. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sastra, termasuk pembacaan puisi dan diskusi literasi.

Kehadirannya di ruang publik tidak hanya sebagai penulis buku, tetapi juga sebagai penggerak percakapan kreatif yang menghubungkan sastra dengan kehidupan sehari-hari. Gaya komunikasinya yang hangat membuatnya dekat dengan komunitas pembaca, penulis muda, dan pegiat seni.

Dalam dunia kepenulisan, Theoresia banyak berkolaborasi dengan pasangannya, Weslly Johannes. Kolaborasi mereka melahirkan sejumlah buku puisi yang mendapat perhatian pembaca karena menghadirkan tema cinta, rumah, pulang, dan relasi manusia secara intim dan reflektif.

Prestasi dan Karya

Perjalanan kepenulisan Theoresia dimulai dari keterlibatannya dalam berbagai antologi bersama. Pada tahun 2010, ia menerbitkan puisi dalam antologi Rona Kata. Kemudian pada 2012, ia turut menulis cerita pendek dalam buku Perkara Mengirim Senja serta menerbitkan buku Menuju(h) bersama enam penulis lainnya melalui penerbit Gagas Media.

Namanya semakin dikenal melalui buku-buku puisi yang diterbitkan oleh penerbit nasional. Salah satu karya pentingnya adalah Tempat Paling Liar di Muka Bumi yang terbit pada 2016 bersama Weslly Johannes. Buku tersebut menjadi salah satu karya yang memperkuat identitas Theoresia sebagai penyair dengan gaya bahasa yang lembut namun emosional.

Pada 2017, tulisannya dalam blog Perempuan Sore diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Bookslife. Di tahun yang sama, dua puisinya juga dimuat dalam buku Akulah Damai yang diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bersama para penyair dari 32 provinsi di Indonesia. Keterlibatan ini menunjukkan kontribusinya dalam menyuarakan pesan damai melalui sastra.

Beberapa karya puisinya yang telah terbit antara lain:

Buku Puisi

  1. Tempat Paling Liar di Muka Bumi (Gramedia Pustaka Utama, 2016), bersama Weslly Johannes.
  2. Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai (Gramedia Pustaka Utama, 2018), bersama Weslly Johannes.
  3. Selamat Datang, Bulan (Gramedia Pustaka Utama, 2019)
  4. Seseorang di Kaca (Gramedia Pustaka Utama, 2019)
  5. Hati Ke Hati Waktu Ke Waktu (Indonesia TERA, 2019), bersama Seno Gumira Ajidarma, Adimas Immanuel, Cyntha Hariadi, dan Dedy Tri Riyadi.
  6. Rumah Rindu (Self-Published, 2020), bersama Weslly Johannes.
  7. Daun Jendela Pagi (Self-Published, 2020), bersama Weslly Johannes.
  8. Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (Gramedia Pustaka Utama, 2021), bersama Weslly Johannes.
  9. Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang (Gramedia Pustaka Utama, 2024)

Catatan Harian

  1. Perempuan Sore (Bookslife, 2017)

Buku Cerpen Antologi Bersama

  1. Menuju(h) (Gagas Media, 2012)
  2. Perkara Mengirim Senja (Penerbit Serambi, 2012)

Melalui karya sastra dan aktivitas publiknya, Theoresia Rumthe menghadirkan suara yang tenang, reflektif, dan dekat dengan pengalaman keseharian masyarakat. Puisi-puisinya banyak berbicara tentang rumah, kehilangan, cinta, perjalanan batin, dan pencarian makna hidup.

Kontribusinya tidak hanya terlihat dalam dunia literasi, tetapi juga dalam upayanya membangun ruang dialog dan komunikasi yang sehat melalui pengajaran public speaking serta kegiatan sastra. Dengan pendekatan yang sederhana namun hangat, Theoresia berhasil menjadi salah satu sosok perempuan penulis Indonesia yang konsisten berkarya dan menginspirasi banyak pembaca melalui kata-kata.

© Artikel Populer. All rights reserved.