Djamil Suherman dikenal sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang konsisten menghadirkan nilai-nilai keagamaan—khususnya Islam dan tradisi pesantren—ke dalam karya sastra modern. Ia aktif berkarya sejak awal 1950-an hingga menjelang wafatnya, dan menjadi figur penting dalam perkembangan sastra Indonesia bernuansa religius pada era 1960-an.
- Nama lengkap: Djamil Suherman.
- Tempat, tanggal lahir: Sidoarjo (sebagian sumber menyebut Surabaya), Jawa Timur, 24 April 1924.
- Wafat: Bandung, 30 November / 1 Desember 1985.
- Profesi: Sastrawan, penulis, redaktur, pendidik, pegawai negeri.
Latar Keluarga dan Pengaruh Awal
Djamil Suherman tumbuh dalam lingkungan religius. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di lingkungan pesantren di Kedungpring, Jawa Timur, tempat ia memperoleh pendidikan agama Islam secara langsung dari ayahnya. Latar keluarga dan suasana pesantren ini memberikan pengaruh kuat terhadap pandangan hidup serta arah kepenulisannya.
Nilai-nilai keislaman, kehidupan santri, relasi antara iman dan realitas sosial, serta perenungan spiritual menjadi tema yang berulang dalam karya-karyanya. Hal ini menjadikan Djamil Suherman memiliki posisi khas di antara sastrawan sezamannya.
Pendidikan
Riwayat pendidikan Djamil Suherman menunjukkan perpaduan antara pendidikan agama dan pendidikan formal modern, yakni:
- Pendidikan agama di lingkungan keluarga dan pesantren.
- Pesantren Mufidah Muhammadiyah, Surabaya.
- Sekolah Rakyat, Surabaya (1937)
- Sekolah Menengah Pertama, Kediri (1944)
- Sekolah Menengah Atas, Surabaya (1950)
- Akademi Administrasi Negara (AAN), Bandung (lulus 1965)
Pendidikan ini memperkaya perspektifnya, baik dalam mengelola bahasa sastra maupun dalam memahami struktur sosial dan birokrasi yang kelak juga mewarnai karya-karyanya.
Karier dan Aktivitas Publik
Perjalanan hidup Djamil Suherman tidak hanya diisi oleh dunia sastra, tetapi juga pengalaman sosial yang luas:
- Buruh pabrik di Surabaya (1940–1945)
- Anggota TNI berpangkat Sersan Mayor I, Divisi VI Kediri (1947–1950) pada masa revolusi.
- Guru agama dan guru sekolah rakyat di Surabaya (1950–1951)
- Pegawai Pos dan Telekomunikasi (PN Postel) di Surabaya, Palembang, dan Bandung (sejak 1951)
Di bidang kebudayaan dan sastra, Djamil Suherman sangat aktif:
- Redaktur majalah Tunas (Surabaya)
- Penulis rubrik kebudayaan “Lembaga” di harian Suara Rakjat.
- Pengasuh rubrik “Tanah Air” di Trompet Masjarakat.
- Pengelola ruang sastra “Pantjaran Seni” di RRI Surabaya.
- Anggota redaksi majalah Tanah Air dan Gelora.
- Ketua Impresariat HSBI Sumatra Selatan (1962)
- Peserta Konferensi Pengarang Indonesia di Jakarta (1964)
Ia juga terlibat aktif dalam pembinaan teater dan seni sastra nasional, khususnya di Surabaya dan Palembang.
Prestasi dan Karya
Djamil Suherman menulis puisi, cerpen, novel, drama radio, hingga puitisasi terjemahan Al-Qur’an. Ia juga dikenal menggunakan banyak nama samaran, antara lain: DS, Djumala, Rahman Rahim, Al Qalam, Tintamas, Nitisusastro, Jaman, Al Amin, Mata Pena, Buah Tangan, dan Tandamata.
Karya Buku Utama
Puisi
- Muara (1958, bersama Kaswanda Saleh)
- Manifestasi (1963, antologi puisi bersama 8 penyair)
- Nafiri (1983)
Cerpen
- Umi Kalsum (1963; cetak ulang 1984)
Novel
- Perjalanan ke Akhirat (1963) – Hadiah Kedua Majalah Sastra 1962
- Pejuang-Pejuang Kali Pepe (1984)
- Sarip Tambak Oso (1985)
- Sakerah (1985)
Buku Keagamaan
- Kabar dari Langit (1986, puitisasi terjemahan Al-Qur’an)
- Jalan Pintas ke Sorga (1986)
Selain itu, ia menerjemahkan karya-karya sastra dunia, seperti Leaves of Grass (Walt Whitman) dan antologi puisi dunia karya Robert Penn Warren dan Albert Arskine.
Penghargaan
- 1962: Hadiah Kedua Majalah Sastra untuk Perjalanan ke Akhirat.
- 1967: Penghargaan dari Pos dan Telekomunikasi untuk karya cerpen, drama radio, dan drama pentas.
Pandangan Kritikus dan Kontribusi Sastra
Sastrawan dan kritikus Ajip Rosidi menggolongkan Djamil Suherman sebagai pengarang keagamaan, yang berhasil mengangkat agama sebagai persoalan sastra, bukan semata-mata dakwah. Sementara Endo Senggono menilai Djamil sebagai penulis yang produktif dalam menggambarkan dunia pesantren secara autentik dan manusiawi.
Kontribusi terbesarnya terletak pada keberhasilannya menjembatani nilai religius dengan estetika sastra modern Indonesia.
Djamil Suherman merupakan figur penting dalam sejarah sastra Indonesia, khususnya dalam pengembangan sastra keagamaan dan penggambaran dunia pesantren. Dengan pengalaman hidup yang luas—mulai dari buruh, tentara, guru, hingga birokrat—ia menghadirkan karya-karya yang kaya perspektif, humanis, dan bernilai spiritual.
Warisan kepenulisannya tetap relevan sebagai bagian dari khazanah sastra Indonesia yang berakar kuat pada tradisi, iman, dan kemanusiaan.