Profil Faisal Ismail: Cendekiawan Muslim, Birokrat, dan Diplomat Indonesia

Faisal Ismail berasal dari lingkungan Madura yang kental dengan tradisi keagamaan. Latar keluarga dan kultur religius tempat ia tumbuh memberi ...

Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A. lahir di Sumenep, Madura, pada 15 Mei 1947. Ia dikenal sebagai seorang akademisi, pemikir Islam moderat, birokrat Kementerian Agama, serta diplomat Republik Indonesia. Dalam perjalanan hidupnya, Faisal Ismail mengabdikan diri pada dunia pendidikan, birokrasi negara, dan pengembangan pemikiran Islam yang inklusif dan dialogis.

Faisal Ismail

Latar Keluarga

Faisal Ismail berasal dari lingkungan Madura yang kental dengan tradisi keagamaan. Latar keluarga dan kultur religius tempat ia tumbuh memberi pengaruh kuat terhadap minatnya pada studi keislaman dan pendidikan agama. Nilai kesederhanaan, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap ilmu pengetahuan menjadi fondasi awal yang membentuk karakter dan etos intelektualnya.

Pendidikan

Pendidikan formal Faisal Ismail ditempuh secara bertahap dan konsisten di jalur pendidikan keagamaan negeri.

Ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SD Negeri) di Prenduan, Sumenep, Madura, dan lulus pada 1959. Pendidikan menengah ditempuh di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Pamekasan, tamat pada 1963. Selanjutnya, ia melanjutkan ke PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta, sebuah sekolah dinas Kementerian Agama pada masa itu, dan lulus pada 1966.

Pendidikan tinggi ditempuh di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang diselesaikannya pada 1973. Kesempatan memperluas wawasan akademik internasional diperoleh melalui beasiswa Fulbright, yang membawanya ke Columbia University, New York, untuk menempuh studi S2 bidang Sejarah Islam (1986–1988).

Pada 1991, Faisal Ismail melanjutkan studi doktoral di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada. Ia meraih gelar Ph.D. pada 1995 dengan disertasi berjudul “Islam in Indonesian Politics, A Study of Muslim Responses to and Acceptance of the Pancasila”, sebuah karya yang banyak dirujuk dalam kajian hubungan Islam dan negara di Indonesia.

Karier dan Aktivitas Publik

Karier profesional Faisal Ismail dimulai sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada 1973 di Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Bali, Denpasar, dengan golongan IIa. Setahun kemudian, ia dimutasi menjadi tenaga pengajar di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat ia meniti karier akademik secara berkelanjutan.

Di lingkungan kampus, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Dakwah, Pembantu Dekan Bidang Akademik, Asisten Direktur Program Pascasarjana, Dekan Fakultas Dakwah (1997–2000), Ketua Senat Fakultas, Anggota Senat Universitas, dan Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga pada 2000.

Di tingkat nasional, Faisal Ismail dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis di Kementerian Agama Republik Indonesia. Ia menjabat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) pada 2000–2002, kemudian Sekretaris Jenderal Kementerian Agama pada 2002–2006. Jabatan terakhirnya di kementerian adalah Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (2006).

Ia mengabdi sebagai pejabat eselon I di bawah kepemimpinan tiga Menteri Agama, yaitu K.H.M. Tholhah Hasan, Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, dan Muhammad Maftuh Basyuni. Kontribusinya tercermin dalam penguatan kebijakan kehidupan beragama, pengembangan riset keagamaan, serta pengarusutamaan moderasi dan dialog antarumat beragama.

Pada akhir 2006, Faisal Ismail diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kuwait, merangkap Kerajaan Bahrain. Ia menjalankan tugas diplomatik tersebut hingga 2010, berkedudukan di Kuwait City. Setelah purna tugas sebagai duta besar, ia kembali mengabdi di dunia akademik sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga pensiun, dan kemudian melanjutkan pengajaran di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Prestasi dan Karya

Faisal Ismail dikenal sebagai ilmuwan produktif dengan puluhan judul buku dan ratusan artikel ilmiah. Karya-karyanya mencakup bidang sejarah Islam, pemikiran Islam kontemporer, pendidikan Islam, pluralisme, hubungan agama dan negara, serta dinamika sosial-keagamaan di Indonesia.

Beberapa karya pentingnya antara lain Tak Ada Redefinisi Moral dalam Islam, Islam yang Produktif, Ideologi, Hegemoni dan Otoritas Agama, NU, Gusdurisme dan Politik Kiai, Islam, Konstitusionalisme dan Pluralisme, Panorama Sejarah Islam dan Politik di Indonesia, hingga Islam: Idealitas Qurani, Realitas Insani. Karya terakhirnya, Kontroversi Pembaruan Pemikiran Islam: Studi Kritis Apresiatif, diselesaikan menjelang akhir hayat dan masih dalam proses penerbitan.

Baginya, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan panggilan moral dan amal keilmuan. Ia kerap menegaskan bahwa manfaat jangka panjang ilmu jauh lebih bernilai daripada imbalan materi.

Visi dan Kontribusi Pemikiran

Faisal Ismail dikenal membawa visi Islam moderat, dialogis, dan kontekstual, yang berupaya mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan kebangsaan, kemanusiaan, dan pluralitas Indonesia. Pemikirannya berkontribusi penting dalam membangun wacana Islam yang tidak eksklusif, tetapi terbuka terhadap perbedaan dan dinamika zaman.

Wafat

Pada Jumat, 10 Juni 2022, Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A. wafat di kediamannya di Yogyakarta pada usia 75 tahun, setelah menunaikan Salat Asar. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademik, birokrasi, dan pemikiran Islam di Indonesia.

Seiring pergantian zaman, jabatan birokrasi mungkin terlupakan. Namun, jejak intelektual dan keteladanan Faisal Ismail terus hidup melalui karya-karyanya, murid-muridnya, dan kontribusi pemikirannya bagi kehidupan beragama dan kebangsaan Indonesia. Ia dikenang sebagai sosok ilmuwan yang tekun, pejabat yang bersih, dan penulis yang setia pada panggilan ilmu hingga akhir hayat.

© Artikel Populer. All rights reserved.