Beni Satryo merupakan penyair sekaligus wartawan Indonesia yang dikenal melalui karya-karya puisinya yang reflektif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia juga konsisten berkarya dalam sastra, khususnya puisi modern Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya, Beni Satryo menghadirkan sudut pandang yang peka terhadap pengalaman manusia, ruang kota, kesunyian, hingga dinamika sosial.
Identitas dan Latar Belakang
Beni Satryo lahir di Jakarta pada 21 November 1988. Ia menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Latar pendidikan filsafat tersebut turut memengaruhi gaya penulisan dan kedalaman tema dalam karya-karyanya, terutama dalam menghadirkan perenungan tentang kehidupan, relasi manusia, dan realitas sosial.
Sejak masa kuliah di Yogyakarta, Beni mulai aktif menulis puisi. Lingkungan akademik dan budaya sastra di kota tersebut menjadi salah satu ruang penting dalam perkembangan kreativitasnya sebagai penulis. Pengalaman hidup di Yogyakarta juga memberi warna tersendiri dalam sejumlah puisinya yang banyak menyinggung perjalanan, ruang kota, dan kesunyian personal.
Karier dan Aktivitas Publik
Selain dikenal sebagai penyair, Beni Satryo juga aktif sebagai wartawan di salah satu media terkemuka di Jakarta. Aktivitas jurnalistik yang dijalaninya berjalan beriringan dengan kiprahnya di dunia sastra. Melalui kedua bidang tersebut, ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia literasi dan perkembangan isu-isu sosial budaya.
Saat ini Beni tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia juga aktif berbagi pemikiran dan interaksi publik melalui akun media sosial Twitter/X miliknya, @benisatryo.
Karya dan Prestasi
Dalam dunia sastra, Beni Satryo telah menerbitkan sejumlah buku puisi yang mendapatkan perhatian dari pembaca maupun kalangan sastra Indonesia.
Beberapa karya puisinya antara lain:
- Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (EA Books, 2016; diterbitkan kembali oleh Buku Mojok pada 2020)
- Antarkota Antarpuisi (baNANA, 2019)
Kedua buku tersebut memperoleh apresiasi dalam ajang Kusala Sastra Khatulistiwa, salah satu penghargaan sastra bergengsi di Indonesia:
- Pendidikan Jasmani dan Kesunyian masuk nominasi longlist kategori puisi pada 2016.
- Antarkota Antarpuisi masuk nominasi shortlist kategori puisi pada 2020.
Selain buku tunggal, Beni juga terlibat dalam penerbitan antologi bersama berjudul:
- Mancis: Belitan Asmara (baNANA, 2025)
Gaya Penulisan dan Kontribusi
Puisi-puisi Beni Satryo dikenal memiliki nuansa kontemplatif dengan bahasa yang sederhana namun kuat secara emosional. Ia sering mengangkat tema keseharian, perjalanan antarkota, relasi personal, hingga kesunyian modern yang dekat dengan pengalaman generasi urban.
Kontribusinya di bidang sastra menunjukkan konsistensi dalam merawat tradisi puisi Indonesia kontemporer. Melalui karya-karyanya, Beni tidak hanya menghadirkan pengalaman estetik, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi pembaca mengenai kehidupan modern dan pengalaman manusia secara lebih luas.
Dengan latar belakang filsafat, pengalaman jurnalistik, serta produktivitas di dunia sastra, Beni Satryo menjadi salah satu sosok penulis Indonesia yang terus memberi warna dalam perkembangan literasi dan puisi kontemporer Indonesia.