Felix K. Nesi merupakan salah satu penulis Indonesia kontemporer yang dikenal karena karya-karyanya yang kuat, jenaka, sekaligus menyentuh persoalan sosial dan kemanusiaan. Namanya semakin diperbincangkan setelah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018 melalui novel Orang-Orang Oetimu, sebuah karya yang menghadirkan wajah Timor dengan cara yang segar dan penuh daya pikat.
Sebagai penulis, Felix dikenal konsisten mengangkat pengalaman masyarakat dari wilayah timur Indonesia, terutama Timor, ke dalam karya sastra, film, dan pertunjukan. Melalui tulisan-tulisannya, ia menghadirkan cerita tentang identitas, sejarah, kemiskinan, keluarga, hingga impian manusia biasa dengan bahasa yang hidup dan dekat dengan tradisi tutur masyarakat.
Identitas dan Latar Kehidupan
Felix memiliki nama lengkap Felix Kandidus Nesi. Ia lahir pada 31 Agustus 1988 di Nesam, Insana, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ia tumbuh dan besar dalam keluarga petani sederhana di sebuah kampung kecil yang memiliki tradisi bertutur kuat.
Lingkungan tempat Felix dibesarkan memberi pengaruh besar terhadap imajinasinya sebagai penulis. Cerita-cerita rakyat, pengalaman hidup masyarakat desa, serta kebiasaan mendengar kisah dari orang-orang tua menjadi sumber inspirasi yang kemudian membentuk warna khas karya-karyanya. Sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, Felix mulai menuliskan kembali cerita-cerita yang pernah didengarnya.
Keluarganya sempat berharap ia dapat menjadi seorang pastor. Karena itu, Felix dimasukkan ke Seminari Lalian di Atambua untuk menempuh pendidikan menengah. Meski demikian, setelah lulus sekolah pada 2008, ia memilih jalannya sendiri dengan merantau dan melanjutkan pendidikan di bidang psikologi.
Pendidikan dan Perjalanan Intelektual
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Felix melanjutkan studi psikologi di Universitas Merdeka Malang. Masa kuliah menjadi periode penting dalam perkembangan dirinya sebagai penulis.
Di Malang, minatnya terhadap dunia sastra semakin berkembang. Ia mulai aktif menulis puisi, cerpen, dan berbagai karya lainnya. Pada 2011, puisinya dimuat di surat kabar Bali Post, menjadi salah satu publikasi awal yang memperkenalkan namanya kepada khalayak. Setelah itu, karya-karyanya juga hadir di berbagai media seperti Tempo, Kompas, dan Malang Post.
Selain menulis untuk media massa, Felix juga sempat menerbitkan karya secara mandiri. Pengalaman tersebut memperlihatkan kegigihannya dalam membangun jalan kepenulisan secara bertahap dari bawah.
Perjalanan intelektual Felix kemudian berkembang ke tingkat internasional. Setelah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2018, ia memperoleh kesempatan mengikuti program residensi kepenulisan di Amsterdam dan Iowa. Pada 2022, ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa serta Emergency Congress of Writers di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York.
Karya Sastra dan Prestasi
Nama Felix mulai dikenal luas melalui novel Orang-Orang Oetimu yang diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2019. Novel tersebut digali dari khazanah sejarah, tradisi, dan realitas sosial masyarakat Timor. Dengan gaya penceritaan yang unik dan penuh humor satir, karya itu berhasil menarik perhatian pembaca maupun kritikus sastra.
Novel tersebut memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 dan kemudian meraih Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2021. Selain itu, Orang-Orang Oetimu juga masuk dalam 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 serta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.
Selain novel, Felix juga produktif menulis cerpen dan puisi. Kumpulan cerpennya Kapten Hanya Ingin ke Dili menjadi finalis Penghargaan Sastra Kemendikbudristek tahun 2023. Dalam bidang puisi, ia menerbitkan buku Kita Pernah Saling Mencinta pada 2021.
Berikut beberapa karya penting Felix K. Nesi:
Novel
- Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019)
Cerpen
- Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra Malang, 2016)
- Di Sarang Para Pencuri Cendana (penerbitan mandiri, 2017) – kumpulan cerita anak
- Kode Etik Laki-Laki Simpanan (Buku Fanu, 2019) – ditulis memakai nama Robertus Aldo Nishauf
- Kapten Hanya Ingin ke Dili (Marjin Kiri, 2023)
Puisi
- Kita Pernah Saling Mencinta (Gramedia Pustaka Utama, 2021)
- Melepas Kepergian (Puri Sembilan, 2025) – ditulis memakai nama Raka Sulistyo Bintang
Naskah Pertunjukan
- Radio Ibu (Titimangsa Foundation, 2021) – naskah monolog
- Yang Tertinggal di Jakarta (Titimangsa Foundation, 2022) – naskah monolog
- Memeluk Mimpi-Mimpi (Titimangsa Foundation, 2024) – naskah drama musikal
Karya-karya Felix memperlihatkan perhatian besar terhadap manusia biasa, kelompok marjinal, serta dinamika sosial di daerah yang jarang mendapat sorotan utama dalam sastra Indonesia.
Karier di Dunia Film dan Pertunjukan
Selain dikenal sebagai sastrawan, Felix juga aktif di dunia perfilman dan pertunjukan. Ia terlibat sebagai penulis skenario, sutradara, produser, hingga narator dalam beberapa proyek film.
Film dokumenter pendek Sailum: Song of the Rustling Leaves yang ia sutradarai menjadi official selection di sejumlah festival film nasional dan internasional. Film tersebut juga meraih penghargaan Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Bulanan Kemenparekraf 2023.
Felix juga menyutradarai dan menulis skenario Keluarga Cendana pada 2024. Sementara itu, dalam film Pangku (2025), ia bekerja sama dengan Reza Rahadian sebagai penulis skenario. Kolaborasi tersebut berhasil memenangkan Piala Citra Festival Film Indonesia 2025 untuk kategori Penulis Skenario Asli Terbaik.
Filmografi
- Sailum: Song of the Rustling Leaves (2023) – sebagai produser, sutradara, penulis skenario (bersama Moses Parlindungan Ompusunggu) dan juga narator
- Keluarga Cendana (2024) – sebagai sutradara dan penulis skenario
- Pangku (2025) – sebagai penulis skenario (bersama Reza Rahadian)
Keterlibatan Felix dalam berbagai medium menunjukkan kemampuannya menjangkau publik yang lebih luas, tidak hanya melalui sastra, tetapi juga lewat film dan seni pertunjukan.
Visi dan Kontribusi
Felix K. Nesi dipandang sebagai salah satu suara penting dalam sastra Indonesia modern, khususnya karena keberhasilannya membawa perspektif masyarakat Timor dan Indonesia timur ke panggung nasional maupun internasional.
Karya-karyanya tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial mengenai ketimpangan, sejarah lokal, identitas budaya, dan kehidupan masyarakat kecil. Dengan gaya bertutur yang khas, ia berhasil menjembatani cerita lokal menjadi pengalaman universal yang dapat dinikmati banyak kalangan.
Perjalanan Felix juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dari daerah untuk terus berkarya dan percaya bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat nasional maupun global.
Melalui sastra, film, dan pertunjukan, Felix K. Nesi terus menunjukkan komitmennya dalam memperkaya kebudayaan Indonesia serta memperluas ruang bagi cerita-cerita dari pinggiran agar dapat didengar lebih luas.