Profil M. Aan Mansyur: Penyair Kontemporer dari Makassar

M. Aan Mansyur memiliki nama lengkap Martan Mansyur. Ia lahir di Bone pada 14 Januari 1982. Sejak muda, Aan telah menunjukkan minat besar terhadap ...

M. Aan Mansyur merupakan salah satu sastrawan Indonesia kontemporer yang dikenal luas melalui karya-karya puisi yang puitis, reflektif, dan dekat dengan pengalaman keseharian manusia. Namanya semakin populer ketika sejumlah puisinya digunakan dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2, terutama puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” yang kemudian menjadi salah satu karya paling dikenal oleh pembaca muda Indonesia.

Profil M. Aan Mansyur

Selain aktif sebagai penyair, Aan Mansyur juga dikenal sebagai penulis, penyunting, pustakawan, penerjemah, serta penggerak kegiatan literasi di Indonesia Timur, khususnya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Identitas dan Latar Belakang

M. Aan Mansyur memiliki nama lengkap Martan Mansyur. Ia lahir di Bone pada 14 Januari 1982. Sejak muda, Aan telah menunjukkan minat besar terhadap dunia membaca dan menulis. Lingkungan sosial dan budaya Sulawesi Selatan turut memberi pengaruh terhadap perkembangan cara pandang dan sensibilitas sastranya.

Ketertarikannya terhadap sastra berkembang sejak usia muda dan terus membentuk identitas kreatifnya hingga kini.

Pendidikan dan Perjalanan Literasi

Aan Mansyur dikenal sebagai sosok yang menempuh jalur literasi secara konsisten melalui pengalaman membaca, menulis, dan keterlibatan langsung dalam komunitas sastra. Ia banyak mengembangkan pengetahuan dan wawasan kepenulisannya melalui aktivitas literasi independen, diskusi sastra, serta jejaring penulis nasional maupun internasional.

Pada tahun 2017, ia menerima beasiswa residensi sastra dari Komite Buku Nasional untuk mengikuti program residensi di Krakow. Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas jejaring internasional serta memperkaya perspektif kepenulisannya.

Karier dan Aktivitas Publik

Aan Mansyur bermukim di Makassar dan aktif mengembangkan ekosistem sastra di kota tersebut. Ia termasuk salah satu penggerak Makassar International Writers Festival sejak tahun 2011. Festival ini berkembang menjadi salah satu forum sastra internasional penting di Indonesia yang mempertemukan penulis, pembaca, seniman, dan pegiat budaya dari berbagai negara.

Selain itu, Aan juga terlibat dalam pengembangan KataKerja, sebuah perpustakaan komunitas yang berfokus pada penguatan budaya membaca dan ruang belajar alternatif bagi masyarakat. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan literasi menunjukkan komitmennya dalam membangun akses sastra yang lebih luas, terutama bagi generasi muda.

Saat ini, Aan Mansyur diketahui menjabat sebagai direktur Makassar International Writers Festival dan aktif dalam berbagai forum kebudayaan, diskusi sastra, hingga program penerjemahan karya.

Karya Sastra dan Gaya Penulisan

M. Aan Mansyur dikenal melalui gaya penulisan yang sederhana namun emosional, dengan tema-tema tentang cinta, kehilangan, kesepian, ingatan, dan kehidupan sehari-hari. Puisinya sering dianggap dekat dengan pembaca muda karena menggunakan bahasa yang ringan tetapi tetap memiliki kedalaman makna.

Beberapa buku puisinya yang dikenal luas antara lain:

  1. Sajak dengan Huruf Tak Cukup (2004)
  2. Hujan Rintih-Rintih (2005)
  3. Aku Hendak Pindah Rumah (2008)
  4. Cinta yang Marah (2009)
  5. Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012)
  6. Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012)
  7. Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014) – terbit di Malaysia
  8. Melihat Api Bekerja (2015)
  9. Tidak Ada New York Hari Ini (2016)
  10. Sebelum Sendiri (2017)
  11. Perjalanan Lain Menuju Bulan (2017)
  12. Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (2020)
  13. Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (2021)
  14. Memasihkan yang Pernah (2023)
  15. Bahasa Pohon-Pohon Tumbang (2025)

Selain puisi, Aan juga menulis karya prosa seperti novel:

  1. Perempuan Rumah Kenangan (2007)
  2. Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (2015)

Ia juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen tunggal:

  1. Kukila (2012)

Aktivitas Penerjemahan dan Kolaborasi Sastra

Selain sebagai penulis, Aan Mansyur aktif menerjemahkan karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa karya terjemahannya antara lain:

  1. Love & Misadventure / Cinta & Kesialan-Kesialan karya Lang Leav (2016)
  2. 100 Soneta Cinta karya Pablo Neruda (2019)
  3. Dua Puluh Sajak Cinta dan Satu Nyanyian Putus Harapan karya Pablo Neruda (2024)
  4. Yang Memberi Kita Nama karya Alvin Pang (2025)

Keterlibatannya dalam dunia penerjemahan memperlihatkan kontribusinya dalam memperluas akses pembaca Indonesia terhadap karya sastra internasional.

Aan juga terlibat dalam berbagai antologi bersama, baik puisi, cerpen, maupun esai. Kehadirannya dalam sejumlah proyek kolaboratif memperlihatkan perannya sebagai bagian penting dari perkembangan sastra Indonesia modern.

Berikut beberapa di antaranya:

Kupu-Kupu dalam Kotak Kaca (2005); antologi puisi.

  1. Kota Tanpa Karya (2007); antologi cerpen.
  2. Melawan Ketergantungan: Kebijakan Pangan dan Pengalaman Pengorganisasian Tiga Desa (2011); buku dokumentasi aksi pengorganisasian petani selama lebih dari dua tahun (2009-2011)
  3. Dari Datuk ke Sakura Emas (2011); antologi cerpen.
  4. Antologi Puisi Penulis Lepas (2011); antologi puisi.
  5. Perkara Mengirim Senja (2012); antologi cerpen.
  6. Perempuan yang Melukis Wajah (2012); antologi cerpen.
  7. Dunia Di Dalam Mata (2013); antologi cerpen.
  8. Esai Tanpa Pagar: 100 Esai Pilihan (2014); antologi esai.
  9. Telinga Palsu: 100 Literasi Pilihan (2016); antologi esai.
  10. Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (2016); antologi cerpen.
  11. Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May: Cerpen Terbaik Tempo (2017); antologi cerpen. 
  12. Jentayu: Hors-série n°3 - Indonésie (2018); antologi sastra Prancis yang menyajikan panorama sastra Indonesia kontemporer pasca-Reformasi 1998.
  13. Jagadhita: The World We Create (2018); antologi dwibahasa karya penulis baru UWRF 2018.

Prestasi dan Penghargaan

Sepanjang kariernya, M. Aan Mansyur telah menerima sejumlah penghargaan sastra bergengsi. Di antaranya:

  1. Kusala Sastra Khatulistiwa (2021)
  2. Anugerah Sastra Kemendikbud (2021)
  3. Penghargaan Sastra Kementerian Hukum dan HAM (2022)

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer.

Kontribusi bagi Sastra Indonesia

M. Aan Mansyur tidak hanya dikenal sebagai penulis produktif, tetapi juga sebagai tokoh literasi yang aktif membangun ruang budaya dan komunitas membaca. Melalui karya, festival sastra, perpustakaan komunitas, dan aktivitas penerjemahan, ia berperan dalam memperluas jangkauan sastra kepada masyarakat yang lebih luas.

Kehadirannya di dunia sastra Indonesia menunjukkan bahwa karya sastra dapat hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus tetap memiliki kedalaman refleksi. Dengan pendekatan yang inklusif dan konsisten terhadap literasi, Aan Mansyur menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern.

© Artikel Populer. All rights reserved.