Profil Saras Dewi: Sosok Penyair dan Akademisi yang Peduli Lingkungan

Saras Dewi lahir pada tanggal 16 September 1983 di Denpasar, Bali. Ia merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara yang lahir dari pasangan dengan ..

Saras Dewi merupakan salah satu intelektual publik Indonesia yang dikenal melalui kiprahnya di bidang filsafat, sastra, musik, serta advokasi lingkungan dan perempuan. Sosok yang lahir dan besar di Bali ini dikenal sebagai akademisi yang konsisten memperjuangkan isu kemanusiaan, ekologi, dan kebudayaan melalui jalur pendidikan maupun karya kreatif.

Profil Saras Dewi

Sebagai dosen filsafat di Universitas Indonesia, Saras Dewi aktif mengajar berbagai tema pemikiran kritis seperti ekofeminisme, filsafat ekologi, fenomenologi, filsafat timur, hingga filsafat sastra. Di luar dunia akademik, ia juga dikenal sebagai penyair, penulis, penyanyi, dan aktivis yang banyak terlibat dalam gerakan sosial serta pelestarian lingkungan hidup.

Identitas dan Latar Belakang

Saras Dewi memiliki nama lengkap Dr. Luh Gede Saraswati Putri, S.S., M.Hum. Ia lahir di Denpasar, Bali, pada 16 September 1983. Saras merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara yang lahir dari pasangan dengan latar keyakinan berbeda. Lingkungan keluarga yang beragam tersebut turut membentuk cara pandangnya yang terbuka terhadap isu kemanusiaan, keberagaman, dan spiritualitas.

Tumbuh di Bali yang kaya akan tradisi budaya dan filosofi kehidupan, Saras banyak terinspirasi oleh relasi harmonis antara manusia dan alam. Pengalaman hidup di tengah perubahan sosial dan lingkungan di Bali kemudian memengaruhi banyak gagasan filosofis dan karya-karyanya di masa depan.

Pendidikan dan Perjalanan Akademik

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Saras Dewi melanjutkan studi di Jurusan Filsafat Universitas Indonesia. Sejak masa kuliah, ia menunjukkan minat besar terhadap kajian filsafat, sastra, dan isu sosial.

Perjalanan akademiknya berlangsung konsisten hingga jenjang doktoral. Pada tahun 2001, ia memperoleh beasiswa pendidikan hingga tingkat S3 dengan ikatan kerja. Saras kemudian mendalami berbagai bidang filsafat, termasuk etika lingkungan, eksistensialisme, fenomenologi, dan hak asasi manusia.

Ia menyelesaikan program doktoralnya pada Juli 2013 di usia 29 tahun, sebuah pencapaian yang menegaskan dedikasinya di dunia akademik. Selain menempuh pendidikan di Indonesia, Saras juga mengikuti fellowship dan riset di Leiden University selama tiga bulan pada periode Mei–Juli 2015.

Karier Akademik dan Aktivitas Publik

Karier Saras Dewi di dunia pendidikan dimulai ketika ia menjadi asisten akademik dari filsuf dan aktivis perempuan Gadis Arivia. Pengalaman tersebut membuka jalannya menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Ia mulai mengajar sebagai dosen luar biasa sejak 2006 dan kemudian menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil pada 2009. Saras pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Filsafat dari 2010 hingga 2016. Dalam perannya sebagai akademisi, ia mengampu berbagai mata kuliah seperti Eksistensialisme, Filsafat Timur, Etika Lingkungan, Filsafat dan HAM, Fenomenologi, serta Filsafat Sastra.

Saat ini, Saras Dewi juga menjabat sebagai Kepala Sub-direktorat Pemberdayaan Masyarakat di Universitas Indonesia. Melalui posisi tersebut, ia aktif mendorong keterlibatan kampus dalam isu pemberdayaan sosial dan lingkungan.

Selain mengajar, Saras aktif menulis di berbagai jurnal nasional dan internasional dengan fokus pada feminisme, hak asasi manusia, sastra, filsafat timur, dan etika lingkungan. Tulisannya juga dimuat di berbagai media massa seperti Media Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, Media Hindu, Raditya, dan Nusa Tenggara Post.

Aktivisme Lingkungan dan Perempuan

Salah satu aspek penting dari kiprah Saras Dewi adalah keterlibatannya dalam gerakan sosial dan lingkungan hidup. Ia dikenal sebagai aktivis yang konsisten menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Di Bali, Saras aktif dalam gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa bersama berbagai komunitas lingkungan dan seniman lokal. Ia memandang bahwa kerusakan ekologis dapat mengancam keberlanjutan budaya dan kehidupan masyarakat Bali. Kepeduliannya terhadap isu lingkungan juga diwujudkan melalui dukungannya kepada para petani perempuan di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan mereka.

Dalam isu perempuan dan hak asasi manusia, Saras juga terlibat dalam pendampingan korban kekerasan seksual serta aktif menyuarakan pentingnya perlindungan terhadap perempuan di ruang publik dan institusi pendidikan.

Kiprah di Dunia Sastra dan Musik

Selain dikenal sebagai akademisi, Saras Dewi juga memiliki perjalanan kreatif di bidang seni. Pada 2002, ia merilis album musik berjudul Chrysan di bawah naungan Musica Studio's. Lagu “Lembayung Bali” menjadi salah satu karya yang memperkenalkan namanya di industri musik Indonesia. Album tersebut bahkan masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia dalam kategori Best Ballad dan Best Single.

Di bidang sastra, Saras aktif menulis puisi dan esai yang banyak mengangkat tema tubuh, alam, perempuan, dan spiritualitas. Ia telah menerbitkan sejumlah karya penting, di antaranya:

Buku Kumpulan Puisi

  1. Jiwa Putih (Kutu Buku, 2005)
  2. Kekasih Teluk (Gramedia Pustaka Utama, 2022)

Buku Filsafat

  1. Hak Asasi Manusia (UI Press, 2006) 
  2. Cinta Bukan Coklat (Kanisius, 2009)
  3. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam (Marjin Kiri, 2015)
  4. Sembahyang Bhuvana: Renungan Filosofis tentang Tubuh, Seni, dan Lingkungan  (Pocer, 2022)

Buku Antologi

  1. Ihwal Nama Majid Pucuk: Cerpen Pilihan KOMPAS 2022 (Buku Kompas, 2023); antologi cerpen.
  2. Jagadhita: The World We Create (Yayasan Mudra Swari Saraswati, 2018); antologi dwibahasa karya Penulis Baru UWRF 2018.

Penghargaan dan Kontribusi Kebudayaan

Saras Dewi juga aktif dalam dunia sastra dan kebudayaan Indonesia. Ia dipercaya menjadi juri Khatulistiwa Literary Award secara berturut-turut, sebuah penghargaan sastra bergengsi di Indonesia.

Selain itu, ia menjadi anggota dewan pengarah ASEAN Literary Festival yang bertujuan memperkuat komunikasi dan pertukaran sastra antarnegara ASEAN.

Pada 10 November 2018, Saras dipilih oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk menyampaikan pidato kebudayaan bertajuk Sembahyang Bhuvana di Taman Ismail Marzuki. Dalam pidato tersebut, ia membahas relasi antara pengetahuan, seni, tubuh, dan krisis lingkungan hidup.

Visi dan Pengaruh Pemikiran

Melalui karya akademik, sastra, maupun aktivitas sosialnya, Saras Dewi dikenal sebagai figur yang berupaya menjembatani pemikiran filsafat dengan persoalan nyata masyarakat. Ia banyak mengangkat pentingnya etika lingkungan, kesetaraan gender, hak asasi manusia, serta keberlanjutan budaya lokal.

Pemikirannya menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem yang harus hidup berdampingan secara seimbang dengan alam. Gagasan tersebut menjadikan Saras Dewi sebagai salah satu suara penting dalam diskursus ekofeminisme dan filsafat lingkungan di Indonesia.

Konsistensinya dalam dunia pendidikan, sastra, dan aktivisme menunjukkan bagaimana intelektualitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Hingga kini, Saras Dewi terus dikenal sebagai akademisi dan budayawan yang aktif menginspirasi generasi muda melalui tulisan, pengajaran, dan gerakan sosial yang ia jalani.

© Artikel Populer. All rights reserved.