Ali Syamsudin Arsi, yang juga dikenal dengan inisial ASA, merupakan sastrawan, penyair, pendidik, dan pegiat literasi asal Kalimantan Selatan. Selama lebih dari empat dekade, ia aktif berkarya dalam berbagai genre sastra, mulai dari puisi, cerpen, esai, pantun bakait, kisdap, gumam asa, hingga naskah drama. Konsistensinya dalam dunia sastra menjadikan namanya dikenal sebagai salah satu tokoh sastra Banua yang berkontribusi dalam pengembangan literasi, pembinaan penulis muda, dan pelestarian kebudayaan daerah.
Identitas
- Nama lengkap: Ali Syamsudin Arsi.
- Nama pena: ASA.
- Tempat lahir: Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
- Tanggal lahir: 5 Juni 1964.
- Profesi: Guru, penyair, sastrawan, penulis, dan pegiat literasi.
Selain dikenal sebagai penyair, Ali Syamsudin Arsi juga aktif menulis cerpen, esai, pantun bakait, gumam asa, kisdap, serta naskah drama. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media massa daerah, nasional, maupun regional sejak dekade 1980-an.
Latar Belakang Keluarga
Ali Syamsudin Arsi lahir dan tumbuh di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Ia berasal dari lingkungan masyarakat Banjar yang memiliki tradisi budaya dan sastra lisan yang kuat. Meski informasi mengenai identitas orang tua dan kehidupan keluarganya tidak banyak dipublikasikan, latar budaya Banjar diyakini memberi pengaruh terhadap perjalanan kreatifnya.
Kedekatannya dengan nilai-nilai budaya lokal, kehidupan masyarakat, alam Kalimantan Selatan, serta persoalan sosial menjadi tema yang kerap muncul dalam berbagai karya puisinya.
Pendidikan
Dalam bidang pendidikan formal, Ali Syamsudin Arsi merupakan alumnus Jurusan Bahasa dan Seni Universitas Terbuka. Pendidikan tersebut memperkuat minat dan kompetensinya dalam dunia bahasa, sastra, serta pendidikan.
Selain menempuh pendidikan tinggi, ia juga terus mengembangkan kemampuan melalui aktivitas kepenulisan, diskusi sastra, seminar, dan berbagai kegiatan literasi yang diikuti sepanjang kariernya.
Awal Karier Kepenulisan
Ali Syamsudin Arsi mulai aktif menulis sejak era 1980-an. Pada masa tersebut ia mulai menghasilkan puisi, cerpen, dan esai yang kemudian dimuat di berbagai surat kabar dan media sastra.
Konsistensinya dalam berkarya membuat namanya semakin dikenal di lingkungan sastra Kalimantan Selatan. Ia termasuk penulis yang produktif menerbitkan buku puisi tunggal maupun berpartisipasi dalam berbagai antologi puisi bersama.
Selain aktif menulis, ia juga rutin mengikuti forum sastra, pembacaan puisi, diskusi kebudayaan, hingga kegiatan pembinaan penulis muda.
Karier sebagai Guru
Di luar aktivitas kesusastraan, Ali Syamsudin Arsi menjalani profesi sebagai guru di SMP Negeri 11 Banjarbaru.
Profesi sebagai pendidik berjalan beriringan dengan kiprahnya sebagai penyair. Pengalaman mengajar turut memperkaya perspektifnya dalam menulis, terutama mengenai pendidikan, kemanusiaan, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Sebagai guru, ia juga aktif membimbing siswa dalam kegiatan literasi dan pengembangan kreativitas.
Aktivitas Organisasi dan Literasi
Selain menjadi penulis, Ali Syamsudin Arsi dikenal aktif membangun ekosistem sastra di Kalimantan Selatan melalui berbagai organisasi dan komunitas.
Forum Taman Hati
Bersama M. Rifani Djamhari, ia mendirikan Forum Taman Hati, sebuah forum diskusi sastra dan lingkungan yang menjadi ruang bertemunya para penulis, penyair, dan pemerhati budaya.
Forum tersebut berperan sebagai wadah berbagi gagasan mengenai sastra, lingkungan hidup, dan perkembangan kebudayaan.
Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru
Ali Syamsudin Arsi juga merupakan pendiri sekaligus pembina Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Melalui sanggar ini, ia aktif membina generasi muda yang memiliki minat pada dunia sastra dan kepenulisan. Sanggar tersebut menjadi salah satu ruang kreatif bagi lahirnya penyair dan penulis muda di Kalimantan Selatan.
Kindai Seni Kreatif
Sejak tahun 2016, Ali Syamsudin Arsi mengelola Kindai Seni Kreatif yang berlokasi di Landasan Ulin Utara, Banjarbaru.
Lembaga ini bergerak dalam pengembangan seni, sastra, dan kreativitas masyarakat melalui berbagai kegiatan literasi, pelatihan, diskusi, dan pembinaan penulis.
Kontribusi dalam Pembinaan Sastra
Selain aktif menulis, Ali Syamsudin Arsi juga sering menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan sastra.
Bersama Balai Bahasa Kalimantan Selatan, ia menjadi narasumber dalam program Bengkel Sastra yang ditujukan bagi siswa maupun guru di berbagai kota di Provinsi Kalimantan Selatan.
Melalui kegiatan tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis puisi, cerpen, serta apresiasi sastra kepada peserta dari berbagai kalangan.
Prestasi dan Penghargaan
Dedikasi Ali Syamsudin Arsi terhadap dunia sastra memperoleh berbagai penghargaan sepanjang kariernya, antara lain:
- 1999 – Hadiah Sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru.
- 2005 – Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan.
- 2007 – Hadiah Sastra Bidang Puisi dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin.
- 2012 – Penghargaan pada acara Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra oleh Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Pariwisata, Budaya, dan Olahraga.
- 2014 – Penghargaan Sastra dari Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dewan Kesenian Kota Banjarbaru berdasarkan penilaian terhadap kekaryaan dan aktivitas bersastra.
- 2015 – Mendapat undangan menghadiri Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Ubud, Bali.
Berbagai penghargaan tersebut mencerminkan pengakuan atas kontribusinya dalam pengembangan sastra, khususnya di Kalimantan Selatan.
Karya Buku Seri "Gumam Asa"
Ali Syamsudin Arsi menerbitkan tujuh buku dalam seri Gumam Asa, yaitu:
- Negeri Benang Pada Sekeping Papan (2009)
- Tubuh di Hutan Hutan (2009)
- Istana Daun Retak (2010)
- Bungkam Mata Gergaji (2011)
- Gumam Desau (2013)
- Cau Cau Cua Cau (2014)
- Jejak Batu Sebelum Cahaya (2014)
Seri tersebut menunjukkan konsistensi eksplorasi estetik dan refleksi sosial yang menjadi ciri kepenyairannya.
Buku Puisi Tunggal
Selama kariernya, Ali Syamsudin Arsi telah menerbitkan sejumlah buku puisi tunggal, di antaranya:
- ASA (1986)
- Seribu Ranting Satu Daun (1987)
- Tafsir Rindu (1989; edisi berikutnya 2005)
- Anak Bawang (2004)
- Bayang-Bayang Hilang (2004)
- Pesan Luka Indonesiaku (2005)
- Bukit-Bukit Retak (2006)
- Gemuruh (2014)
- Buku Setengah Tiang (2015)
Karya-karya tersebut memperlihatkan perjalanan kreatifnya yang terus berkembang dari masa ke masa.
Buku Esai
Dalam bidang esai, Ali Syamsudin Arsi turut berkontribusi dalam buku bersama berjudul:
- Gagasan Besar: Himpunan Tulisan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (2011)
Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis bersama sejumlah sastrawan Kalimantan Selatan, antara lain HE. Benyamine, Arsyad Indradi, Harie Insani Putra, Farurraji Asmuni, dan Tajuddin Noor Ganie.
Antologi Puisi Bersama
Selain buku tunggal, Ali Syamsudin Arsi juga aktif berpartisipasi dalam puluhan antologi puisi bersama, antara lain:
- Banjarmasin (1986)
- Bias Puisi dalam Al-Qur'an (1987)
- Banjarmasin dalam Puisi (1987)
- Festival Puisi se-Kalimantan (1992)
- Jendela Tanah Air (1995)
- Tamu Malam (1996)
- Kesaksian (1998)
- Wasi (1999)
- Bahana (2002)
- Narasi Matahari (2002)
- Refortase (2004)
- Dimensi (2005)
- Taman Banjarbaru (2005)
- 142 Penyair Menuju Bulan (2006)
- Seribu Sungai Paris Berantai (2006)
- Ronce Bunga-Bunga Mekar (2007)
- Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (2008)
- Bertahan di Bukit Akhir (2008)
- Menyampir Bumi Leluhur (2010)
- Kambang Rampai: Puisi Anak Banua (2010)
- Seloka Bisu Batu Benawa (2011)
- Bentara Bagang (2012)
- Tadarus Rembulan (2013)
- Membuka Cakrawala Membaca Fitrah Manusia (2014)
- Duri Duri Angin Tebing (2015)
Keikutsertaannya dalam berbagai antologi tersebut menunjukkan peran aktifnya dalam perkembangan sastra Kalimantan Selatan dan jejaring sastra Indonesia.
Ali Syamsudin Arsi merupakan salah satu penyair dan sastrawan asal Kalimantan Selatan yang secara konsisten berkarya sejak dekade 1980-an. Selain menghasilkan puluhan buku puisi dan berkontribusi dalam berbagai antologi sastra, ia juga berperan sebagai pendidik, pembina komunitas sastra, serta penggerak kegiatan literasi di Banjarbaru dan berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Melalui kiprahnya sebagai guru, penulis, narasumber, dan pendiri sejumlah komunitas sastra, Ali Syamsudin Arsi terus berkontribusi dalam pengembangan dunia sastra Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru penulis dan penyair yang aktif berkarya.