Fahmi Wahid merupakan penyair, pegiat sastra, serta aparatur sipil negara (ASN) yang dikenal luas atas kontribusinya dalam perkembangan sastra dan kebudayaan di Kalimantan Selatan. Selama lebih dari empat dekade, ia aktif menulis puisi, membina komunitas sastra, serta terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan di tingkat daerah, nasional, hingga Asia Tenggara. Atas dedikasinya di bidang sastra, ia menerima Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan pada tahun 2011.
Identitas
- Nama lengkap: Fahmi Wahid
- Tempat lahir: Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
- Tanggal lahir: 3 Agustus 1964
- Tanggal wafat: 10 Januari 2026
- Profesi: Penyair, penulis, pegiat budaya, Aparatur Sipil Negara (ASN)
Latar Keluarga
Fahmi Wahid lahir dan dibesarkan di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di daerah tersebut sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Banjarmasin.
Lingkungan budaya Banjar dan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan menjadi salah satu sumber inspirasi yang kuat dalam karya-karya puisinya. Kecintaannya terhadap sastra dan kebudayaan daerah kemudian berkembang menjadi komitmen untuk melestarikan sekaligus mengembangkan literasi serta kesenian di daerah asalnya.
Pendidikan
Fahmi Wahid menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Barabai.
Riwayat pendidikannya meliputi:
- Sekolah Dasar (SD) di Barabai.
- Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Barabai.
- Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Barabai.
- Sarjana (S-1) Jurusan Muamalah Jinayah/Perdata Pidana Islam, Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin (kini UIN Antasari Banjarmasin), lulus pada tahun 1990.
- Program Pascasarjana (S-2) Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen IMNI Jakarta pada bidang Magister Manajemen Pendidikan dengan konsentrasi Teknologi Pembelajaran, lulus pada tahun 2006.
Semasa kuliah di Fakultas Syariah IAIN Antasari, ia aktif mengikuti kegiatan sastra dan teater yang menjadi fondasi bagi kiprahnya sebagai penyair dan pegiat seni.
Karier
Di bidang pemerintahan, Fahmi Wahid mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan.
Di luar tugas kedinasannya, ia dikenal aktif mengembangkan kehidupan sastra dan kebudayaan, baik melalui organisasi seni maupun pembinaan komunitas.
Beberapa jabatan dan peran yang pernah diembannya antara lain:
- Sekretaris Teater Pena Banjarmasin (1987–1990).
- Pendiri Sanggar Pena Barabai.
- Ketua Dewan Kesenian Murakata (DKM) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (2008–2012).
- Wakil Ketua Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
- Pendiri Sanggar Mamang di Paringin, Kabupaten Balangan sejak 2014.
- Anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ).
- Ketua Dewan Kesenian Balangan.
Sebagai Ketua Dewan Kesenian Balangan, Fahmi Wahid aktif mendorong pembinaan seni dan sastra, mengembangkan kegiatan kebudayaan daerah, serta mendukung lahirnya generasi baru seniman dan sastrawan di Kalimantan Selatan.
Kiprah di Dunia Sastra
Fahmi Wahid mulai menulis puisi sejak dekade 1980-an. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Media Kalimantan, dan lain sebagainya.
Selain puisi, ia juga mulai menulis naskah drama sejak tahun 1986.
Ia aktif mengikuti berbagai forum sastra, baik di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara, di antaranya:
- Pertemuan Sastrawan Tiga Negara (Indonesia, Malaysia, dan Singapura) di Cilegon, Banten (2014).
- Pertemuan Penyair Asia Tenggara di Malaysia (2018).
- Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Bali (2019).
- Berbagai Aruh Sastra Kalimantan Selatan dan kegiatan sastra lainnya.
Prestasi
Sepanjang kariernya, Fahmi Wahid memperoleh sejumlah penghargaan dan pencapaian, antara lain:
- Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan (2011).
- Masuk lima besar Lomba Tulis Bahasa Banjar Kalimantan Selatan (2000).
- Menjadi salah satu dari 19 nominasi Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar Kalimantan Selatan yang kemudian dibukukan dalam Manyanggar Banua (2010).
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam mengembangkan sastra Banjar dan dunia literasi di Kalimantan Selatan.
Karya
Buku Tunggal
Fahmi Wahid telah menerbitkan sejumlah buku puisi, yaitu:
- Suara Orang Pedalaman (2016)
- Perjalanan Debu (2018)
- Tandik Meratus (2019)
- Tanah Perindu (2020)
- Hikayat Pohon Air Mata Sungai (2024)
Buku Antologi Bersama
Selain buku tunggal, karya-karyanya juga dimuat dalam puluhan antologi puisi bersama, antara lain:
- Seribu Sungai Paris Berantai: Antologi Puisi Aruh sastra Kalimantan Selatan III, Kabupaten Kotabaru (2006)
- Tarian Cahaya di Bumi Sanggam: Antologi puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan V, Kabupaten Balangan (2008)
- Bertahan di Bukit Akhir: Antologi puisi Penyair Hulu Sungai Tengah (Penerbit KSI Kab.HST, Barabai (2008)
- Menyampir Bumi Leluhur: Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan V, Kabupaten Tabalong (2010)
- Manyanggar Banua (2010)
- Seloka Bisu Batu Benawa: Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII (2011)
- Sungai Kenangan: Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan IX (2012)
- Tadarus Rembulan: Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan X (2013)
- Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014)
- Solo dalam Puisi: Antologi Festival Satra Solo (2014)
- Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2014)
- Duka Gaza Duka Kita (2014)
- Ada Malam Bertabur Bintang (2015)
- Tifa Nusantara 2 (2015)
- Kalimantan Selatan Menolak untuk Menyerah (2015)
- Memo Wakil Rakyat (2015)
- Memo Antiterorisme (2016)
- Melepas Tubuh dalam Cahaya (2016)
- Ije Jela: Tifa Nusantara 3 (2016)
- Memo Antikekerasan Terhadap Anak (2016)
- Pasie Karam (2016)
- Jejak Arus Tanah Banyu (2016)
- Membaca Sastra Membangun Literasi (2016)
- Puisi Kopi 1.550 mdpl (2016)
- Menembus Kegelapan Menggapai Kerinduan (2017)
- Maumang Makna di Huma Aksara (2017)
- The First Drop of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, 2017, Negeri Bahari (2018)
- Hutan Hujan Tropis (2018)
- Membumikan Langit: Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastra Banjarbaru 2018 (2018)
- Epitaf Kota Hujan (2018)
- Wangian Kembang (2018)
- Kunanti di Kampar Kiri (2018)
- Sepanjang Siring Laut (2018)
- A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2018)
- Selasa di Pekuburan Ma’la: Renung-Kenang Para Penyair untuk K.H. Maimoen Zoebair (Penerbit MataAir Publishing, Rembang, Jawa Tengah, 2019)
- Mangkunung Banuaku: Antologi Puisi Bahasa Banjar (2019)
- Semerbak Hutan Seharum Ombak: Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan XVI Tanah Bumbu (2019)
- Dundang Parisj Van Borneo: Bunga Rampai Puisi Karya Penyair Hulu Sungai Tengah (2020)
- Sayur Mayur (2020), Rantau: Antologi Puisi Dari Negeri Poci 10 (2020)
- Meratus: Nyanyian Rindu Anak Banua (Penerbit Kandaka Public Initiative, Kota Serang, 2020)
Selain karya-karya tersebut, puisinya juga hadir dalam berbagai antologi sastra lainnya.
Biodata dalam Referensi Sastra
Profil kepenyairan Fahmi Wahid telah didokumentasikan dalam sejumlah publikasi sastra, di antaranya:
- Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (Balai Bahasa Banjarmasin, 2008).
- Antologi Biografi 599 Sastrawan Kalimantan Selatan 1930–2011 (Rumah Pustaka Karya Sastra, 2011).
- Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi, Jakarta, 2017).
Fahmi Wahid dikenal sebagai sosok yang memadukan pengabdian sebagai aparatur sipil negara dengan kiprah panjang di dunia sastra. Melalui karya-karya puisinya, pendirian Sanggar Mamang, kepemimpinan di berbagai dewan kesenian, serta keterlibatannya dalam forum sastra nasional dan internasional, ia memberikan kontribusi bagi perkembangan literasi, pelestarian budaya Banjar, dan pembinaan generasi muda di Kalimantan Selatan.
Keberadaannya sebagai penyair, organisator seni, dan pembina komunitas menjadikan namanya sebagai salah satu tokoh sastra yang memiliki peran penting dalam perkembangan kesusastraan Kalimantan Selatan pada era kontemporer.