Nurhayat Arif Permana, yang akrab disapa Alik, lahir di Palembang pada 23 Oktober 1969. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, putra pasangan Moch Da'i Sulaiman dan Zumratul Kabatiah.
Panggilan "Alik" muncul sejak masa kecil karena ia belum mampu melafalkan nama "Arif" dengan jelas sehingga terdengar seperti "Alik". Awalnya, kedua orang tuanya memberi nama Nurprihatin, yang mencerminkan kondisi kehidupan keluarga saat itu. Karena semasa kecil ia sering sakit-sakitan, namanya kemudian diganti menjadi Nurhayat, sebagai doa dan harapan agar ia tumbuh sehat dan panjang umur.
Latar Keluarga
Nurhayat dibesarkan dalam keluarga sederhana di Palembang. Masa kecilnya dihabiskan di rumah bedeng yang dihuni sekitar sepuluh anggota keluarga dan berada di kawasan yang kerap dilanda banjir ketika hujan deras. Pengalaman tersebut justru menjadi kenangan yang membentuk imajinasi kreatifnya. Hujan, yang pada masa kecil identik dengan permainan dan kebersamaan keluarga, kemudian menjadi salah satu citraan yang sering muncul dalam karya-karya sastranya.
Sebagai anak bungsu, ia memperoleh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua maupun kakak-kakaknya. Selain gemar bermain permainan tradisional, Nurhayat sejak kecil juga menunjukkan ketertarikan pada seni menggambar. Ayahnya menyediakan kapur tulis sehingga ia bebas menggambar di lantai maupun dinding rumah.
Pengaruh terbesar terhadap minat kesusastraannya datang dari sang ayah, Moch Da'i Sulaiman, seorang guru yang mencintai sastra dan memiliki koleksi buku-buku kesusastraan. Ayahnya juga menulis karya sastra dan mewariskan dua buku puisi yang memperkenalkan Nurhayat kepada karya-karya penyair dunia. Lingkungan keluarga inilah yang kemudian menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia literasi.
Pendidikan
Nurhayat menempuh seluruh jenjang pendidikan formal di Kota Palembang.
Riwayat pendidikannya meliputi:
- SD Negeri 27 Palembang.
- SMP Negeri 2 Palembang.
- SMA Negeri 1 Palembang.
- Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Sarjana Hukum), lulus tahun 1994.
Selama bersekolah di SMA Negeri 1 Palembang, bakat menulisnya mulai berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ia juga aktif dalam dunia teater dan berbagai perlombaan sastra. Prestasinya dalam lomba baca puisi membuat teman-temannya menjulukinya sebagai "Penyair I-8", sesuai nama kelasnya.
Setelah lulus SMA, Nurhayat sempat bercita-cita melanjutkan studi ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia atau Institut Kesenian Jakarta. Namun, atas pertimbangan keluarga, ia memilih berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya mulai tahun 1988.
Selama menjadi mahasiswa, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan seni, antara lain menulis puisi dan cerpen, bermain teater, bermain sinetron, melukis, aktif di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.
Karier
Selepas memperoleh gelar Sarjana Hukum pada tahun 1994, Nurhayat memilih menekuni dunia kepenulisan dan jurnalistik.
Perjalanan kariernya meliputi:
- Lawyer Assistant di Barty Law Office.
- Reporter dan Desainer Grafis di Harian Sriwijaya Post.
- Reporter dan Redaktur di Harian Bangka Pos.
- Editor pada Humas Pemerintah Daerah Bengkulu.
- Peneliti lepas di berbagai lembaga penelitian sejak mengundurkan diri dari dunia jurnalistik pada Juli 2002.
Pengalaman sebagai wartawan memperkaya kemampuan menulisnya, terutama dalam teknik penulisan jurnalistik yang ringkas, padat, dan komunikatif. Selama bekerja di Bangka Pos, ia bersama sejumlah sastrawan Bangka Belitung turut menghidupkan kehidupan sastra dengan mendirikan Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KSPB).
Aktivitas Sastra dan Organisasi
Selain berkarier di bidang jurnalistik, Nurhayat aktif dalam berbagai kegiatan sastra sejak usia muda. Beberapa aktivitas publik yang pernah dijalani antara lain:
- mengikuti berbagai forum sastra regional dan nasional,
- menjadi peserta Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) yang mempertemukan penulis muda dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam,
- menghadiri Kongres Cerita Pendek III tahun 2003,
- memimpin Majelis Seniman Sumatera Selatan mulai tahun 2003.
Ia juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan serta kegiatan kebudayaan yang berkaitan dengan sastra Indonesia.
Prestasi
Perjalanan kepenulisan Nurhayat diwarnai sejumlah penghargaan dan pencapaian, di antaranya:
- Juara I Sayembara Penulisan Cerita Pendek se-Sumatera Selatan ketika masih duduk di bangku SMA.
- Beberapa kali memenangkan lomba baca puisi pada masa sekolah.
- Pengunjung Terbaik Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan tahun 1998.
- Lakon drama Kerudung Bayang-Bayang Bulan meraih Juara II pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) tahun 1993.
- Terpilih mengikuti Program Penulisan MASTERA mewakili penulis muda Indonesia.
- Diundang dalam Pertemuan Penyair Sumatera, Jawa, dan Bali tahun 1992.
- Diundang menghadiri Kongres Cerita Pendek III tahun 2003.
Karya
Nurhayat Arif Permana dikenal sebagai penyair, cerpenis, penulis naskah drama, dan novelis.
Buku Puisi Tunggal
- Stanza Air Mata (2003)
- Stanza Lara (2011)
Buku Antologi Bersama
Karya-karyanya juga pernah dimuat dalam berbagai buku antologi bersama, antara lain:
- Ghirah (1992)
- Puisi Indonesia dan Penyair Empat Kota (1997)
Namanya juga tercatat dalam:
- Direktori Penulis di Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 1997)
- Buku Pintar Kesusastraan (Kompas, 2002)
Nurhayat Arif Permana merupakan sastrawan, jurnalis, dan peneliti asal Palembang yang mengembangkan kariernya melalui dunia sastra dan jurnalistik. Latar belakang keluarga yang dekat dengan kesusastraan, pengalaman masa kecil, serta aktivitasnya di dunia media menjadi fondasi penting dalam perjalanan kreatifnya. Selain menghasilkan berbagai karya puisi, cerpen, dan drama, ia juga aktif membangun ekosistem sastra melalui komunitas, forum kepenulisan, dan organisasi kesenian di Sumatera Selatan maupun Bangka Belitung.