Profil Doel CP Allisah: Penyair dan Jurnalis Aceh

Doel CP Allisah lahir di Banda Aceh pada 3 Mei 1961. Ia kemudian tumbuh sebagai salah satu nama yang turut mewarnai perkembangan sastra Aceh dan ...

Doel CP Allisah dikenal sebagai penyair, jurnalis, editor, dan pegiat sastra asal Aceh. Kiprahnya berlangsung dalam rentang panjang, mulai dari dunia pers hingga pengembangan sastra melalui penulisan, penyuntingan buku, antologi, serta aktivitas komunitas. Karya-karyanya juga memperlihatkan perhatian terhadap kehidupan sosial, kebudayaan, kemanusiaan, dan pengalaman masyarakat Aceh.

Doel CP Allisah
Gambar: lintasgayo.com

Doel CP Allisah lahir di Banda Aceh pada 3 Mei 1961. Ia kemudian tumbuh sebagai salah satu nama yang turut mewarnai perkembangan sastra Aceh dan sastra Indonesia, khususnya melalui puisi dan aktivitas editorial.

Pendidikan

Riwayat pendidikan Doel CP Allisah mencakup sejumlah lembaga pendidikan di Aceh. Ia menempuh pendidikan di SDN-1 Sigli, kemudian SMPN-1 Sigli, Sekolah Pengamat Kehewanan Saree, dan SMA Padangtiji.

Setelah pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di P2DK dan FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Data yang tersedia tidak menunjukkan adanya riwayat studi luar negeri yang dapat dipastikan.

Perjalanan profesionalnya kemudian lebih banyak diarahkan pada dunia kepenulisan, jurnalistik, penyuntingan, dan kegiatan sastra. Doel kemudian banyak bergiat sebagai editor buku.

Karier Jurnalistik

Sebelum dikenal luas sebagai penyair dan editor, Doel CP Allisah memiliki pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh pada periode 1983–1996.

Dalam perjalanan jurnalistiknya, ia pernah menjadi Redaktur Budaya SKM Mimbar Swadaya pada 1982–1985. Setelah itu, ia bekerja sebagai wartawan SKM Bintang Sport Film pada 1986–1988 dan kemudian menjadi Redaktur Budaya SKM Atjeh Post pada 1989–1992.

Pengalamannya berlanjut ke dunia televisi. Ia tercatat pernah menjadi reporter Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 1994–1996. Selain media di Indonesia, aktivitas jurnalistiknya juga disebut bersinggungan dengan media dan jaringan publikasi di Malaysia.

Latar belakang jurnalistik tersebut penting dalam melihat perkembangan kepenyairannya. Pengalaman sebagai wartawan dan redaktur membentuk kedekatan dengan berbagai persoalan sosial serta peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Kiprah sebagai Penyair

Nama Doel CP Allisah terutama menonjol melalui karya puisi. Karya-karyanya telah dimuat dalam berbagai media dan antologi sastra di Indonesia dan Malaysia.

Dua buku puisi yang sering dikaitkan dengan namanya adalah Nyanyian Angin (1992) dan Nyanyian Miris (The Sadness Song) (2007). Buku kedua disusun dalam format dwibahasa Indonesia-Inggris dan memuat karya yang ditulis dalam rentang waktu panjang. Salah satu catatan mengenai buku tersebut menggambarkan puisinya sebagai rekaman reflektif terhadap berbagai realitas kehidupan di Aceh pada periode 1979–2006.

Karya Doel juga hadir dalam berbagai antologi. Namanya, misalnya, tercantum sebagai salah satu penulis dalam Antologi Puisi Indonesia 1997, yang diterbitkan Komunitas Sastra Indonesia dan Penerbit Angkasa Bandung. Ia juga termasuk dalam antologi Putroe Phang, yang diterbitkan Dewan Kesenian Aceh pada 2002.

Berikut daftar buku antologi yang mencantumkan karya Doel CP Allisah:

  1. Malam Perempuan Malam (1984)
  2. Duri (1985)
  3. Ranub (1985)
  4. Antologi Penyair Aceh 86 (1986)
  5. Kemah Seniman Aceh-3 (1990)
  6. Sosok (1993)
  7. Nafas Tanah Rencong (1993)
  8. Banda Aceh (1993)
  9. Monmata (1995)
  10. Seulawah (1995)
  11. Antologi Puisi Indonesia 97 (1997)
  12. Keranda-Keranda (2000)
  13. Dalam Beku Waktu (2002)
  14. Putr Phang (2002)
  15. Aceh dalam Puisi (2003)
  16. Mahaduka Aceh (2005)
  17. Aceh 8,9 Skala Richter Lalu Tsunami (2005)
  18. Duka Aceh Luka Kita (2005)
  19. Ziarah Ombak (2005)
  20. Syair Tsunami (2006)
  21. Medan Puisi (2007)
  22. Tanah Pilih (2008)
  23. Jambi Di Mata Sastrawan (2008)
  24. Leksikon Sastra Aceh (2008)
  25. Ensiklopedi Aceh/Adat-Hikayat-Sastra (2008)
  26. Kutaraja-Banda Aceh (2008)
  27. Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009)
  28. Krueng Aceh (2009)
  29. Compassion & Solidarity (2009)
  30. Musibah Gempa Padang (2009)
  31. Rumpun Kita (2009)
  32. Percakapan Lingua Franca (2010)
  33. Beranda Senja (2010)
  34. Antologi Penulis Lepas (2010)
  35. Akulah Musi (2011)
  36. Senja Di Batas Kata (2011)
  37. Tuah Tara No Ate (2011)
  38. Secangkir Kopi (2013)
  39. Rampai Puisi Penyair Alam Melayu-Tamadun.1 (2013)
  40. Anthology of the 33rd World Congress of Poets (2013)

Beberapa puisinya memperlihatkan keterikatan kuat dengan ruang, sejarah, dan pengalaman sosial Aceh. Puisi “Ulee Kareng”, misalnya, menghadirkan gambaran mengenai perubahan lingkungan dan kehidupan kota melalui ingatan terhadap ruang-ruang lokal. Sementara itu, sejumlah puisi lain merespons pengalaman bencana dan perubahan sosial yang terjadi di Aceh.

Karakter puisinya juga telah menjadi objek kajian akademik. Sebuah penelitian mengenai karakteristik puisi penyair Aceh dalam antologi Lagu Kelu memasukkan Doel CP Allisah sebagai salah satu penyair yang dikaji dari aspek diksi, gaya bahasa, dan tema.

Kegiatan Editorial dan Kontribusi terhadap Sastra Aceh

Selain menulis puisi, Doel CP Allisah memiliki peran penting sebagai editor buku. Dalam sejumlah sumber, ia disebut menjadi editor berbagai karya penulis dan sastrawan Aceh serta Brunei Darussalam pada periode sekitar 2006–2010.

Salah satu karya editorial adalah Kutaraja–Banda Aceh: Antologi Puisi Penyair Indonesia, yang diedit oleh Doel CP Allisah bersama Nani H.S. Buku tersebut diterbitkan pada 2008 oleh Aliansi Sastrawan Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh, dengan karya-karya penyair dari sejumlah daerah.

Namanya juga tercatat sebagai editor antologi Lagu Kelu, yang diterbitkan melalui kerja sama Aliansi Sastrawan Aceh dan Japan Net pada 2005.

Kiprah editorial ini menunjukkan bahwa kontribusinya terhadap sastra tidak hanya melalui karya pribadi, tetapi juga melalui upaya mendokumentasikan, menyunting, dan memperkenalkan karya penulis lain.

Aliansi Sastrawan Aceh

Doel CP Allisah juga mempunyai keterkaitan erat dengan Aliansi Sastrawan Aceh (ASA). Ensiklopedia Sastra Indonesia yang dikelola Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat bahwa ASA didirikan pada 22 Maret 1993 oleh sejumlah wartawan, penyair, dan penulis Aceh, termasuk Doel CP Allisah.

Doel pernah menjadi koordinator Aliansi Sastrawan Aceh. Ia juga tercatat sebagai ketua ASA dalam dokumentasi mengenai penerbitan sejumlah buku karya sastrawan Aceh.

Peran tersebut memperlihatkan bahwa aktivitasnya tidak berhenti pada penciptaan karya individual. Ia turut terlibat dalam ekosistem yang mendukung penerbitan dan pengembangan karya para sastrawan Aceh.

Penghargaan

Atas kiprahnya di bidang sastra, Doel CP Allisah memperoleh sejumlah penghargaan. Salah satu di antaranya adalah Anugerah Sastra dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh pada 2009.

Penghargaan tersebut melengkapi perjalanan panjang Doel sebagai penulis, penyair, jurnalis, dan editor yang aktif dalam lingkungan kebudayaan Aceh.

Keterlibatan dalam Forum Sastra dan Budaya

Aktivitas Doel CP Allisah juga membawanya ke berbagai forum sastra dan kebudayaan, antara lain:

  1. Pertemuan Penulis Muda Sumatera (1985)
  2. Asean Writers Seminar (1986)
  3. Kongres Kebudayaan Sabah (1989)
  4. Seminar Kritik Film-PWI/Yayasan Citra (1990)
  5. Dialog Utara (1995, 1999, 2010)
  6. Seminar Antar Bangsa Pemikiran Tan Sri Ismail Husein (Malaysia, 2002)
  7. Ubud Writers & Readers Festival (2009)
  8. 3rd Nusantara Poetry Gathering (Malaysia, 2009)

Keterlibatan dalam forum-forum tersebut memperlihatkan hubungan Doel dengan jaringan sastra yang melampaui Aceh dan Indonesia, terutama dalam konteks kesusastraan Melayu-Nusantara.

Warisan dan Relevansi Karyanya

Perjalanan Doel CP Allisah memperlihatkan hubungan erat antara jurnalistik, sastra, dan dokumentasi kebudayaan. Pengalaman sebagai wartawan memberinya kedekatan dengan peristiwa dan realitas sosial, sedangkan dunia puisi menjadi ruang untuk mengolah pengalaman tersebut menjadi refleksi artistik.

Kehadirannya dalam berbagai antologi, keterlibatannya sebagai editor, serta aktivitasnya di Aliansi Sastrawan Aceh menunjukkan kontribusi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan buku puisi pribadi. Ia turut mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan ruang publik bagi sastra Aceh.

Dengan karya seperti Nyanyian Angin dan Nyanyian Miris (The Sadness Song), serta keterlibatan dalam berbagai penerbitan sastra, Doel CP Allisah menjadi salah satu nama yang patut diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai perkembangan sastra Aceh pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dokumentasi akademik dan ensiklopedis juga memperlihatkan bahwa karya maupun kiprahnya terus menjadi bagian dari pembahasan mengenai sastra Aceh.

© Artikel Populer. All rights reserved.