Profil Hasbi Burman: Penyair dengan Julukan Presiden Rex

Hasbi Burman lahir di Lhok Buya, Aceh Barat, pada 9 Agustus 1955. Sejak muda, Hasbi menjalani kehidupan yang dekat dengan masyarakat. Ia kemudian ...

Nama Hasbi Burman mungkin tidak selalu muncul dalam catatan sejarah sastra Indonesia arus utama. Namun di Aceh, khususnya Banda Aceh dan sekitarnya, namanya memiliki tempat tersendiri. Ia dikenal sebagai penyair yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan kota. Julukan “Presiden Rex” bahkan melekat kuat pada dirinya—sebuah sebutan kultural yang berasal dari keterkaitannya dengan Rex, kawasan kuliner dan ruang pergaulan di Peunayong, Banda Aceh.

Hasbi Burman

  • Nama: Hasbi Burman
  • Julukan: “Presiden Rex”
  • Tempat lahir: Lhok Buya, Aceh Barat
  • Tanggal lahir: 9 Agustus 1955
  • Profesi/aktivitas: Penyair dan seniman otodidak
  • Ruang yang lekat dengan namanya: Rex, Peunayong, Banda Aceh

Hasbi dikenal bukan sebagai sastrawan yang lahir dari lingkungan akademik, melainkan sebagai seniman otodidak yang mengembangkan kepenyairannya melalui pengalaman hidup, pergaulan, serta pengamatan terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Kehadirannya memperlihatkan bahwa sastra dapat tumbuh dari ruang-ruang kehidupan sehari-hari, tidak terbatas pada institusi pendidikan atau forum sastra formal.

Profil Hasbi Burman

Hasbi Burman lahir di Lhok Buya, Aceh Barat, pada 9 Agustus 1955. Sejak muda, Hasbi menjalani kehidupan yang dekat dengan masyarakat. Ia kemudian merantau ke Banda Aceh dan mengandalkan berbagai pekerjaan untuk menopang kehidupannya. Salah satu pekerjaan yang paling dikenal dalam perjalanan hidupnya adalah sebagai tukang parkir di kawasan Rex, Peunayong.

Pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari identitas kulturalnya. Di tengah kesibukan kota dan pergaulan masyarakat, Hasbi terus menulis puisi dan berinteraksi dengan para seniman serta penulis di Aceh.

“Presiden Rex”, Julukan yang Menjadi Identitas

Julukan “Presiden Rex” bukanlah gelar resmi. Sebutan itu diberikan oleh wartawan Kompas dan kemudian menjadi identitas yang sangat lekat dengan Hasbi. Arsip yang membahas sosoknya mencatat bahwa sebutan tersebut muncul dalam pemberitaan Kompas pada 2 Februari 1990.

Rex di Peunayong pada masa itu merupakan salah satu ruang kuliner dan pergaulan yang ramai di Banda Aceh. Hasbi bekerja sebagai tukang parkir di tempat tersebut. Ia tidak hanya dikenal karena pekerjaannya, tetapi juga karena aktivitasnya sebagai penyair. Kehidupan di sekitar Rex menjadi salah satu ruang sosial yang mempertemukan dirinya dengan berbagai kalangan.

Dalam sebuah laporan Acehkini, Hasbi menceritakan bahwa ia telah menjadi tukang parkir di Rex selama bertahun-tahun sebelum berhenti pada 1988. Ia juga dikenal gemar berjalan kaki dan kerap mengunjungi warung kopi serta ruang-ruang pergaulan masyarakat.

Dengan demikian, “Presiden Rex” dapat dipahami sebagai julukan yang lahir dari hubungan Hasbi dengan sebuah ruang publik tertentu, bukan sebagai simbol kekuasaan. Justru daya tarik julukan tersebut terletak pada ironi dan kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari.

Penyair Otodidak yang Setia pada Puisi

Hasbi Burman merupakan contoh penyair yang berkembang melalui jalur nonformal. Ia tidak dikenal melalui latar pendidikan sastra yang panjang, tetapi melalui produktivitas menulis, pembacaan puisi, serta pergaulannya dengan komunitas seni.

Puisi-puisinya memperlihatkan perhatian terhadap berbagai persoalan manusia, alam, kehidupan sosial, sejarah, dan pengalaman masyarakat Aceh. Beberapa karya yang tersedia dalam publikasi daring antara lain “Elegi”, “Meulaboh”, “Dermaga”, dan “Mencari Harapan”.

Tema Aceh dan ingatan terhadap berbagai pengalaman sejarah juga cukup menonjol dalam sejumlah puisinya. Dalam “Elegi”, misalnya, hadir gambaran mengenai Kutaraja, Lhok Nga, Meulaboh, Teunom, Calang, serta pengalaman masyarakat yang terluka akibat berbagai peristiwa. Hal tersebut menunjukkan kedekatan karya Hasbi dengan ruang geografis dan pengalaman sosial yang dikenalnya.

Karakter seperti ini menjadikan puisinya menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai rekaman subjektif seorang warga Aceh terhadap lingkungan dan zamannya.

Aktivitas dalam Dunia Sastra Aceh

Meskipun hidup dengan sederhana, Hasbi tidak sepenuhnya berada di luar ekosistem sastra. Ia aktif mengirimkan puisi ke media dan tampil dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Dalam laporan Acehkini, misalnya, disebutkan bahwa Hasbi kerap mengirimkan puisinya ke rubrik budaya Serambi Indonesia. Sejumlah puisinya kemudian dimuat pada momentum-momentum tertentu.

Ia juga pernah tampil dalam kegiatan sastra yang diselenggarakan di Banda Aceh. Pada Desember 2017, Taman Budaya Banda Aceh menjadi tempat berlangsungnya Malam Puisi dan Syair Hasbi Burman. Dalam acara tersebut, ia membacakan sejumlah karyanya, antara lain “Hutan”, “Hiruk Pikuk Pagi”, “Selat Malaka”, dan “Kalaulah Negeri Ini Kau Titipkan Padaku”.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Hasbi bukan sekadar figur yang dikenal secara informal di ruang-ruang masyarakat, tetapi juga mendapat ruang dalam kegiatan kebudayaan yang lebih resmi.

Sebuah buku mengenai penyair Indonesia juga mencatat bahwa Hasbi pernah diundang membaca puisi di Malaysia, Bangkok, serta sejumlah kota di Pulau Jawa.

“Sekeping Hati yang Tinggal”

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan kepenyairan Hasbi adalah terbitnya buku puisi tunggalnya, Sekeping Hati yang Tinggal, yang diterbitkan oleh Nuansa Cendekia, Bandung, pada 2019. Buku itu memiliki 137 halaman dan memuat 107 puisi.

Penerbitan buku ini penting karena memberikan bentuk dokumentasi yang lebih permanen terhadap karya seorang penyair yang selama bertahun-tahun dikenal terutama melalui pembacaan puisi, media, dan pergaulan budaya.

Bagi perjalanan sastra Hasbi, buku tersebut dapat dipandang sebagai salah satu upaya mengarsipkan suara penyair yang sebelumnya banyak hidup dalam ruang lisan dan keseharian.

Gaya dan Dunia Puisi Hasbi

Puisi Hasbi banyak berangkat dari hal-hal yang dekat dengan pengalaman manusia. Alam, kota, perjalanan, kerinduan, luka sosial, sejarah, dan kehidupan masyarakat menjadi bagian dari dunia puitiknya.

Dalam “Meulaboh”, misalnya, penyair menghadirkan kota dan lanskap pesisir sebagai ruang perenungan. Sementara dalam “Mencari Harapan”, perhatian diarahkan kepada persoalan sosial, kemiskinan, ketimpangan, dan harapan masyarakat.

Kecenderungan tersebut memperlihatkan karakter kepenyairan yang dekat dengan realitas. Puisi tidak ditempatkan semata-mata sebagai permainan bahasa, tetapi juga sebagai sarana untuk mencatat perasaan dan kegelisahan terhadap lingkungan.

Di titik inilah pengalaman Hasbi sebagai seniman otodidak menjadi menarik. Jalan hidupnya yang berada dekat dengan masyarakat memberikan sumber pengalaman yang berbeda dari penyair yang berkembang terutama melalui institusi akademik.

Jejak di Tengah Masyarakat

Salah satu hal yang membuat Hasbi Burman dikenang adalah kesan bahwa dirinya tidak memisahkan kehidupan sehari-hari dari aktivitas bersastra. Ia dapat ditemukan di warung kopi, ruang publik, tempat berkumpul, maupun acara kebudayaan.

Kedekatan tersebut menjadikan sosoknya berbeda dari gambaran penyair yang identik dengan ruang sastra formal. Hasbi memperlihatkan bahwa seorang penyair juga dapat hidup dan berkarya di tengah masyarakat biasa.

Karena itu, “Presiden Rex” lebih tepat dipahami sebagai simbol kedekatan tersebut. Ia bukan “presiden” dalam pengertian politik, melainkan figur yang memperoleh pengakuan informal dari lingkungan budaya yang membentuk dan mengenalnya.

Wafatnya Hasbi Burman

Hasbi Burman meninggal dunia pada Senin malam, 11 Maret 2024, di tengah awal Ramadan. Kabar wafatnya diberitakan sejumlah media Aceh. Waspada melaporkan bahwa seniman yang dikenal dengan julukan “Presiden Rex” tersebut meninggal pada malam 11 Maret 2024.

Sumber lain mengenai Hasbi menyebut bahwa ia meninggal selepas salat tarawih pertama Ramadan 1445 H di rumahnya di kawasan Gampong Karieng, Blang Bintang, Aceh Besar.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang penyair yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap budaya Banda Aceh. Namun, karya-karyanya tetap dapat ditemukan melalui buku, publikasi media, dokumentasi kegiatan budaya, dan arsip digital.

Warisan Seorang Penyair Rakyat

Hasbi Burman meninggalkan warisan yang menarik dalam sastra Aceh. Ia memperlihatkan bahwa jalan menjadi penyair tidak selalu harus melalui pendidikan sastra formal, lembaga kebudayaan besar, atau panggung nasional.

Dari kehidupan sebagai pekerja di ruang publik, ia membangun identitas sebagai penyair. Dari Rex di Peunayong, puisinya bergerak menuju media, panggung kebudayaan, antologi, hingga buku tunggal.

Kisahnya juga mengingatkan bahwa sejarah sastra tidak hanya dibangun oleh nama-nama yang tercatat dalam buku pelajaran. Ada pula seniman yang tumbuh dari ruang-ruang masyarakat, dikenal oleh komunitasnya, dan meninggalkan jejak melalui ingatan kolektif.

Dalam konteks itu, Hasbi Burman adalah salah satu figur penting dalam lanskap sastra dan kebudayaan Aceh, terutama karena konsistensinya menjaga hubungan antara puisi dan kehidupan sehari-hari. “Presiden Rex” menjadi nama yang merepresentasikan perjalanan tersebut: seorang penyair yang menemukan ruang kreatifnya bukan di menara gading, melainkan di tengah masyarakat.

Hasbi Burman pada akhirnya dikenang bukan karena gelar formal, melainkan karena konsistensinya menulis dan hadir di tengah kehidupan masyarakat. Dari Rex hingga panggung kebudayaan, dari puisi-puisi yang dikirim ke media hingga buku yang diterbitkan, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa sastra dapat tumbuh dari mana saja—termasuk dari jalanan kota dan ruang pergaulan rakyat.

© Artikel Populer. All rights reserved.